Wakil MPR Dorong Hari Buku Nasional Jadi Momentum Bangkitkan Literasi di Tengah Anjloknya Minat Baca

- Minggu, 17 Mei 2026 | 22:20 WIB
Wakil MPR Dorong Hari Buku Nasional Jadi Momentum Bangkitkan Literasi di Tengah Anjloknya Minat Baca

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong agar peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei mendatang tidak sekadar menjadi seremonial belaka, melainkan momentum untuk mengevaluasi dan membangun kembali ekosistem literasi nasional sebagai fondasi kemajuan peradaban bangsa.

“Kemampuan literasi adalah fondasi kemajuan peradaban bangsa. Kemampuan literasi masyarakat yang baik merupakan salah satu penanda bahwa suatu bangsa itu memiliki peradaban yang maju,” ujar Lestari dalam keterangan resminya, Minggu (17/5/2026).

Hari Buku Nasional pertama kali diperingati pada 17 Mei 2002. Pencanangan tanggal tersebut dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar, yang bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 1980.

Di balik peringatan tahunan itu, kondisi literasi Indonesia justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan survei Perpustakaan Nasional yang diolah Badan Pusat Statistik, indeks kegemaran membaca masyarakat anjlok dari 72,44 pada 2024 menjadi 54,80 pada 2025. Survei GoodStats pada semester II 2025 bahkan mencatat hanya 20,7 persen responden yang membaca buku setiap hari.

Sementara itu, data World Population Review 2025 menempatkan Indonesia di posisi rendah dalam hal durasi membaca. Rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku selama 129 jam per tahun, jauh tertinggal dari India yang mencapai 352 jam per tahun dan Amerika Serikat yang mencatat 357 jam per tahun.

Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kemampuan inferensial siswa yakni kecakapan kognitif untuk menarik kesimpulan, membuat prediksi, atau menginterpretasikan makna hanya mencapai 43,21 persen. Sementara kemampuan mengevaluasi dan mengapresiasi teks baru berada di angka 45,32 persen.

“Ini ancaman nyata bagi daya saing bangsa. Tantangan literasi saat ini berat karena kita tidak hanya harus menciptakan masyarakat yang bisa membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis,” kata Lestari.

Meski demikian, ia melihat secercah harapan dari generasi Z. Survei GoodStats pada periode yang sama mencatat aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen, lebih tinggi dibandingkan milenial (20 persen) dan Gen X (18 persen).

“Peningkatan minat baca generasi muda ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Menurut Lestari, sejumlah langkah nyata perlu segera diambil. Ia mendorong pengembangan komunitas baca, baik berbasis digital maupun fisik, untuk menciptakan budaya literasi yang hidup. Sekolah dan perguruan tinggi, lanjutnya, juga perlu mengubah pola tugas dari sekadar membaca menjadi aktivitas yang mendorong berpikir kritis.

“Tidak kalah penting, memastikan kemudahan akses membaca bagi masyarakat melalui perpustakaan yang lengkap, baik buku fisik maupun digital,” jelasnya.

Ia juga menekankan perlunya harga buku yang terjangkau, antara lain melalui penghapusan pajak buku dan keringanan harga kertas. Lestari berharap kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dapat menjadikan literasi sebagai gerakan nasional yang terukur.

“Jika generasi penerus tak mampu menelaah derasnya informasi yang datang melalui kemampuan literasinya, hal itu berpotensi menggerus kedaulatan bangsa,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar