WHO Tetapkan Wabah Ebola Strain Bundibugyo di DRC dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global

- Minggu, 17 Mei 2026 | 11:50 WIB
WHO Tetapkan Wabah Ebola Strain Bundibugyo di DRC dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah virus Ebola akibat strain langka Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Namun, badan kesehatan global tersebut menegaskan bahwa situasi ini belum memenuhi kriteria sebagai pandemi. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (17/5/2026), WHO menyebut bahwa meskipun wabah ini telah memicu status darurat tertinggi yang diperkenalkan pada tahun 2024, penyebarannya belum dianggap sebagai pandemi. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan tingkat risiko dan kapasitas respons di kawasan terdampak. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika) melaporkan sebanyak 88 orang telah meninggal dunia, sementara total kasus dugaan demam berdarah yang sangat menular ini mencapai 336. WHO memperingatkan bahwa angka sebenarnya dari jumlah kasus dan luas penyebaran masih belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Di sisi lain, kelompok bantuan medis Dokter Tanpa Batas (MSF) menyatakan tengah mempersiapkan respons skala besar. Mereka menyebut laju penyebaran wabah yang cepat sebagai fenomena yang sangat mengkhawatirkan. Trish Newport, Manajer Program Darurat MSF, mengatakan bahwa peningkatan jumlah kasus dan kematian dalam waktu singkat, ditambah penyebaran yang telah melintasi perbatasan, menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. Menteri Kesehatan DRC, Samuel-Roger Kamba, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk strain Bundibugyo. Ia menjelaskan bahwa strain ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang dapat mencapai 50 persen. Vaksin yang ada saat ini hanya efektif untuk strain Zaire, yang pertama kali diidentifikasi pada 1976 dan memiliki tingkat kematian antara 60 hingga 90 persen. Strain Bundibugyo pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa seorang warga negara Kongo telah meninggal akibat strain ini di negara tetangga, Uganda. Pada Jumat lalu, pejabat kesehatan mengonfirmasi wabah terbaru di Provinsi Ituri, timur laut DRC, yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan. Isaac Nyakulinda, perwakilan masyarakat sipil setempat, menuturkan bahwa dalam dua pekan terakhir banyak warga meninggal tanpa mendapatkan penanganan yang memadai. Ia menyebut tidak ada tempat isolasi bagi pasien, sehingga mereka meninggal di rumah dan jenazahnya ditangani oleh anggota keluarga. Menurut Kamba, pasien pertama adalah seorang perawat yang melapor ke fasilitas kesehatan di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, pada 24 April lalu dengan gejala khas Ebola seperti demam, pendarahan, dan muntah. Tantangan besar lainnya adalah pengangkutan peralatan medis dalam skala besar di DRC, negara dengan lebih dari 100 juta penduduk yang luasnya empat kali lipat Prancis namun memiliki infrastruktur komunikasi yang buruk. Kondisi ini memperumit upaya penanganan wabah yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini