Intelijen AS: Iran Pulihkan 30 dari 33 Fasilitas Rudal, Bantah Klaim Trump soal Pelumpuhan

- Jumat, 15 Mei 2026 | 07:00 WIB
Intelijen AS: Iran Pulihkan 30 dari 33 Fasilitas Rudal, Bantah Klaim Trump soal Pelumpuhan

Laporan komunitas intelijen Amerika Serikat mengungkap temuan mengejutkan terkait kemampuan rudal Iran yang ternyata masih sebagian besar utuh, bertolak belakang dengan klaim resmi pemerintahan Presiden Donald Trump. Berdasarkan data yang diperoleh, Teheran telah memulihkan akses terhadap 30 dari 33 fasilitas rudal strategis yang tersebar di sepanjang Selat Hormuz, termasuk situs peluncuran dan depot penyimpanan bawah tanah.

Sejumlah pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada The New York Times bahwa Iran saat ini masih mempertahankan sekitar 70 persen dari total persediaan rudal sebelum perang, mencakup rudal balistik dan rudal jelajah. Temuan ini secara langsung menyanggah pernyataan Trump dan pejabat Pentagon yang sebelumnya menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan rudal Iran telah berhasil dilumpuhkan.

"Sebagian dari fasilitas rudal itu, atau bahkan seluruhnya, masih tetap beroperasi," ujar seorang sumber pejabat yang mengetahui isi laporan intelijen tersebut.

Di sisi lain, operasi militer AS yang berlangsung melawan Iran justru berdampak pada penipisan persediaan amunisi Amerika sendiri. Kondisi ini pun menjadi perdebatan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dalam kesempatan tersebut, dengan tegas membantah adanya kekurangan amunisi dan menyebut kabar itu sebagai sesuatu yang dilebih-lebihkan.

"Kami memiliki persediaan amunisi yang cukup untuk perang," tegas Hegseth dalam sidang dengan DPR pada Selasa (12/5/2026).

Namun, laporan dari lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis pada 21 April justru memperkuat kekhawatiran sebaliknya. Lembaga tersebut mengungkapkan bahwa AS berisiko menghadapi kekurangan rudal dalam potensi konflik skala besar di masa depan akibat menipisnya persenjataan selama perang di Timur Tengah.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler