DADA Tegaskan Tidak Ada Rencana Perubahan Pengendali Saham
PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) secara resmi menyatakan tidak ada rencana perubahan pemegang saham pengendali dalam 12 bulan ke depan. Pernyataan ini sekaligus menepis rumor beredar mengenai calon pengendali baru yang ingin mengakuisisi perusahaan properti tersebut.
Komitmen Pemegang Saham Pengendali
Direktur DADA, Bayu Setiawan, menegaskan bahwa PT Karya Permata Inovasi Indonesia tetap berkomitmen sebagai pengendali utama dan akan terus mendukung pengembangan bisnis perseroan menuju arah yang lebih berkelanjutan. Pernyataan resmi ini disampaikan melalui surat kepada Bursa Efek Indonesia pada Senin, 20 Oktober 2025.
Tidak Ada Negosiasi Perubahan Pengendalian
Manajemen DADA menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat kesepakatan, komunikasi, atau negosiasi apa pun yang mengarah pada perubahan pengendalian perusahaan. Hal ini mencakup penjualan saham mayoritas, aliansi strategis, maupun akuisisi oleh pihak lain.
"Perseroan juga menegaskan bahwa sampai saat ini, tidak terdapat transaksi atau rencana aksi korporasi lain yang berpotensi mengubah status pengendalian," jelas Bayu Setiawan.
Strategi Kepemilikan dan Stabilitas Perusahaan
PT Karya Permata Inovasi Indonesia akan mempertahankan posisi sebagai pengendali dan terus memberikan dukungan strategis terhadap pengembangan bisnis DADA. Strategi kepemilikan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas struktur permodalan, memperkuat kepercayaan investor, serta memastikan kesinambungan arah manajemen dan tata kelola perusahaan.
Koreksi Harga Saham DADA
Sebelumnya, saham DADA mengalami kenaikan signifikan yang dipicu rumor masuknya dua perusahaan asal Jepang, Kajima Corporation dan Mitsubishi Estate, melalui skema backdoor listing. Rumor juga menyebutkan keterlibatan manajer aset global Vanguard Group dalam proses tersebut.
Namun, setelah klarifikasi resmi dari manajemen, harga saham DADA mengalami koreksi tajam. Dalam tujuh hari terakhir, saham emiten properti ini terus menyentuh batas auto reject bawah (ARB), turun dari level tertinggi Rp178 menjadi Rp59, atau setara dengan penurunan 67 persen.
Penurunan harga saham ini juga disertai aksi jual oleh pengendali yang dilakukan sebagai bentuk divestasi untuk memperkuat struktur modal dan memperbaiki arus kas DADA.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020