PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) kembali memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham, langkah yang diambil perseroan sebagai bagian dari strategi memperkuat struktur modal. Keputusan ini diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di pabrik Campina, Surabaya, pada Selasa, 12 Mei 2026.
Hingga 31 Desember 2025, posisi ekuitas perusahaan tercatat mencapai Rp1 triliun, tumbuh 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp935 miliar. Campina juga mencatatkan diri sebagai perusahaan tanpa utang berbunga, sehingga seluruh kegiatan operasional dibiayai sepenuhnya oleh modal dari pemegang saham.
"Rapat menyetujui untuk tidak membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham perseroan," demikian pernyataan manajemen Campina yang dikutip pada Jumat, 15 Mei 2026. Dengan keputusan ini, laba bersih tahun lalu yang mencapai sekitar Rp74,8 miliar akan dialokasikan sebesar Rp72,5 miliar untuk saldo laba ditahan dan Rp2,2 miliar sebagai dana cadangan.
Absennya pembagian dividen ini merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut. Terakhir kali perseroan membagikan dividen adalah untuk tahun buku 2023. Sejak 2024, profitabilitas Campina terus tertekan di tengah angka penjualan yang cenderung stagnan. Lesunya daya beli masyarakat mendorong konsumen mengubah prioritas belanja pada kebutuhan esensial, sementara beban bahan baku dan upah justru meningkat.
Di sisi lain, persaingan di industri es krim kian ketat. Hal ini terlihat dari langkah kompetitor yang melakukan ekspansi secara agresif dan menggelar promosi harga besar-besaran. Sepanjang 2025, Campina membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,17 triliun, hanya naik tipis 1,13 persen secara tahunan. Proporsi penjualan di wilayah Indonesia Barat dan Timur tercatat cukup seimbang dalam dua tahun terakhir, sebagai dampak dari kinerja pemasaran dan penguatan saluran distribusi.
Namun, beban pokok penjualan naik 9 persen menjadi Rp529,7 miliar, sementara beban usaha naik tipis menjadi Rp557,2 miliar. Akibatnya, laba kotor turun 4 persen menjadi Rp644,7 miliar. Laba usaha anjlok 27 persen menjadi Rp114,9 miliar, dan laba bersih turun 23 persen menjadi Rp74,8 miliar.
Belanja modal Campina juga tercatat cukup tinggi. Pada 2025, belanja modal mencapai Rp98 miliar dengan arus kas dari aktivitas operasional sebesar Rp100 miliar. Kondisi ini mencerminkan karakter industri es krim yang padat modal, sehingga perusahaan perlu menjaga likuiditas dan memperkuat struktur permodalan di tengah tekanan pasar.
Artikel Terkait
OJK: Program Penjaminan Polis Jadi Fondasi Baru Perlindungan Pemegang Polis
Joey Pelupessy Akui Duet dengan Ivar Jenner di Lini Tengah Timnas Indonesia Mulai Tumbuh
Trump Klaim Iran Tembak Jatuh Helikopter Apache AS di Selat Hormuz, Dua Pilot Selamat
TNI Bantah Sekolah di Ende Digusur untuk Bangun Koperasi, Beberkan Kronologi Kerusakan Bangunan