Guterres: Afrika Kini Jadi Motor Penggerak Perubahan Global, Bukan Lagi Objek Kebijakan Negara Lain

- Rabu, 13 Mei 2026 | 19:15 WIB
Guterres: Afrika Kini Jadi Motor Penggerak Perubahan Global, Bukan Lagi Objek Kebijakan Negara Lain

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, melontarkan pujian terhadap peran Afrika yang semakin dominan dalam percaturan global saat membuka Africa Forward Summit di Nairobi, Kenya, pada Selasa, 12 Mei 2026. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa benua tersebut tidak lagi sekadar menjadi objek dari kebijakan negara lain, melainkan telah bertransformasi menjadi motor penggerak perubahan dunia.

Konferensi tingkat tinggi itu digelar atas kerja sama Presiden Kenya William Ruto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Guterres menyampaikan bahwa Afrika kini bergerak maju dengan inisiatifnya sendiri, tanpa lagi menunggu uluran tangan dari pihak luar.

“Afrika tidak menunggu. Afrika sedang bergerak. Afrika sedang memimpin,” ujar Guterres dalam pidatonya yang dikutip dari pernyataan resmi PBB.

Ia menyoroti kontribusi nyata negara-negara Afrika dalam mendorong reformasi lembaga keuangan global yang dibentuk sejak 1945. Menurutnya, sistem tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi dunia saat ini. Afrika, lanjut Guterres, turut berperan dalam penyusunan alat negosiasi utang baru, reformasi sistem pemeringkatan kredit, serta pengesahan Pact for the Future dan Sevilla Commitment yang berkaitan dengan pembiayaan pembangunan.

Di sisi lain, Guterres juga menyoroti ketidakadilan global yang masih membelenggu Afrika. Meskipun memiliki lebih dari 1,5 miliar penduduk, benua ini tidak memiliki satu pun kursi tetap di Dewan Keamanan PBB. Partisipasi Afrika dalam pengambilan keputusan di lembaga keuangan internasional pun masih sangat terbatas.

“Bukan Afrika yang rugi. Dunia yang rugi karena suara Afrika tidak diperhitungkan secara layak,” tegasnya.

Ia memperingatkan adanya krisis solidaritas global yang ditandai dengan menurunnya bantuan pembangunan resmi di saat kebutuhan negara-negara berkembang justru meningkat. Selain itu, Afrika menjadi kawasan yang paling terdampak perubahan iklim, meskipun bukan penyebab utama krisis tersebut.

Guterres kemudian mengungkapkan ironi besar di sektor energi. Afrika memiliki 60 persen potensi energi surya terbaik di dunia, namun hanya menerima dua persen investasi energi bersih global. Sekitar 600 juta warga Afrika masih hidup tanpa akses listrik, sementara satu miliar lainnya bergantung pada bahan bakar memasak yang tidak bersih. Kondisi itu menyebabkan sekitar 800 ribu kematian setiap tahun, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak.

Ia juga menyoroti kekayaan mineral penting di Afrika yang menjadi tulang punggung transisi energi hijau dunia. Namun, keuntungan dari sumber daya tersebut lebih banyak dinikmati pihak luar, sementara dampak lingkungannya ditinggalkan di Afrika.

“Tidak boleh ada lagi eksploitasi dan penjarahan. Rakyat Afrika harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat sumber daya Afrika,” ucapnya dengan tegas.

Menutup pidatonya, Guterres menyerukan kerja sama internasional yang setara dengan Afrika, termasuk investasi di sektor industri, pendidikan, riset, dan kecerdasan buatan. Ia menekankan pentingnya memberdayakan generasi muda Afrika, mengingat pada pertengahan abad ini satu dari empat penduduk dunia diperkirakan berasal dari benua tersebut.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar