Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan bahwa strategi pengelolaan sampah nasional tidak dapat lagi bertumpu pada tempat pembuangan akhir (TPA) dan memerlukan intervensi sejak dari hulu, terutama melalui penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang mudah diakses masyarakat.
Salah satu langkah konkret yang dinilai mendukung visi tersebut adalah perluasan fasilitas Nestlé Indonesia Waste Station. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Nestlé Indonesia dan Alfamart yang tersebar di sejumlah titik ritel di Jakarta, Bandung, dan Bali.
Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen pada Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH, Ujang Solihin Sidik, menekankan bahwa keberadaan waste station kini semakin menjangkau masyarakat. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mendorong pengelolaan sampah secara holistik, dari hulu ke hilir, sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
"Di saat yang sama, pengelolaan sampah nasional tidak bisa lagi bergantung pada pendekatan konvensional yang berakhir di TPA. Diperlukan intervensi nyata dari hulu, termasuk peran aktif produsen dan akses fasilitas yang dekat dengan masyarakat. Inisiatif seperti ini perlu terus diperluas untuk mempercepat pencapaian target pengurangan sampah nasional dan implementasi ekonomi sirkular di Indonesia," ujar Ujang.
Fasilitas yang tersebar di jaringan ritel tersebut memungkinkan masyarakat menyetorkan sampah anorganik dengan lebih mudah, bahkan di sela-sela aktivitas belanja sehari-hari. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program Nestlé Indonesia Waste Station yang terus berevolusi setiap tahun. Dalam pengelolaan operasionalnya, program ini dijalankan bersama Rekosistem, yang menangani proses pengumpulan dan pemilahan lanjutan. Dukungan juga datang dari KLH dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dalam rangka memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.
Sementara itu, sejak 2018 Nestlé secara konsisten menerapkan pendekatan Packaging Sustainability di seluruh aspek operasional bisnisnya. Hingga saat ini, lebih dari 95 persen kemasan Nestlé telah dirancang untuk dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Perusahaan juga terus mengurangi penggunaan resin plastik baru hingga sepertiga, dengan target global mencapai 100 persen kemasan yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali.
Upaya ini sejalan dengan ambisi Nestlé dalam mengimplementasikan Packaging Recovery and Recycling Plan. Salah satu langkahnya adalah memastikan jumlah plastik yang digunakan diimbangi dengan pengumpulan dan pengelolaan kembali melalui berbagai inisiatif. Hal ini dilakukan untuk mencegah lebih banyak kemasan berakhir di TPA atau mencemari perairan.
Peresmian terbaru ini menambah total menjadi 15 fasilitas Nestlé Indonesia Waste Station yang telah dihadirkan di berbagai kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Panen Raya Udang Vaname di Tambak Modern Kebumen, Target Capai 75 Ton
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Udang Vaname di Kebumen, Target Capai 75 Ton
Pemerintahan Trump Kaji Opsi Serangan Militer ke Iran di Tengah Upaya Diplomasi
Ayah Tiri di Surabaya Tersangka Kekerasan Seksual pada Anak Kembar, Salah Satu Korban Hamil