Tabungan BSI Tembus Rp160 Triliun, Tabungan Haji dan Emas Jadi Motor Pertumbuhan

- Selasa, 12 Mei 2026 | 17:20 WIB
Tabungan BSI Tembus Rp160 Triliun, Tabungan Haji dan Emas Jadi Motor Pertumbuhan

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatatkan total dana tabungan yang menembus angka Rp160 triliun hingga kuartal I-2026, atau tumbuh 20,18 persen secara tahunan. Capaian ini disebut melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional maupun sesama bank syariah lainnya. Lonjakan dana murah tersebut tidak lepas dari agresivitas perseroan dalam berekspansi menggaet basis nasabah baru.

“Di tengah situasi makro ekonomi, jumlah tabungan BSI mencatat rekor pertumbuhan tertinggi yaitu sekitar 20 persen secara year-on-year. Menariknya, ini pertama kali kita lihat bahwa di kuartal I yang biasanya tabungan turun, justru mengalami kenaikan,” ujar Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo dalam paparan kinerja perseroan secara virtual, Selasa (12/5/2026).

Secara spesifik, performa tabungan ini ditopang kuat oleh segmen tabungan haji yang terus menjadi primadona. Hingga Maret 2026, jumlah rekening tabungan haji BSI telah melonjak drastis mencapai 7,25 juta rekening. Berkat antusiasme publik tersebut, total dana pihak ketiga (DPK) dari ekosistem haji dan umrah sukses menyentuh angka Rp15,6 triliun.

“Kami juga melihat peran generasi muda yang semakin dominan. Ini menarik, karena nasabah tabungan haji usia 21 sampai 40 tahun itu terlihat mencapai 1,2 juta. Jadi ini meningkatkan atau kita bisa lihat bahwa kesadaran masyarakat untuk ibadah sejak dini sudah mulai terlihat karena komposisi usia mudanya meningkat,” kata dia.

Anggoro menuturkan, strategi bisnis yang tepat sasaran membuat masyarakat semakin percaya menitipkan dananya untuk merencanakan ibadah. Kepemilikan lisensi eksklusif sebagai bank syariah terbesar menjadi kunci utama keunggulan kompetitif perseroan. “Penambahan nasabah kita yang sangat agresif terlihat dari peningkatan jumlah nasabah tabungan haji yang mencapai rekor tertinggi. Tentu ini menjadi istimewa yang menggambarkan dalam lima tahun terakhir sudah sembilan juta lebih nasabah baru bergabung,” ujarnya.

Sementara itu, mesin pertumbuhan baru dari lini bisnis emas turut memberikan kontribusi masif. Ekspansi layanan tabungan emas digital ternyata sangat diminati publik karena menembus hampir 900 ribu nasabah di kuartal I-2026, dan secara fenomenal menembus 1 juta nasabah pada April 2026. Anggoro menekankan, derasnya aliran dana murah dari ekosistem investasi logam mulia ini langsung mendongkrak performa perusahaan.

Status sebagai satu-satunya bullion bank di Tanah Air membuat BSI mendominasi segmentasi pasar dan bisnis bank emas. “Mesin baru kita yaitu bank emas menunjukkan data signifikan dengan jumlah penabung yang tembus satu juta nasabah, padahal baru setahun kita jual. Ini menggambarkan bahwa keunikan BSI menjadi engine pertumbuhan nasabah yang berujung pada sustainability kinerja,” ujarnya.

Alhasil, kuatnya fundamental dana murah langsung memengaruhi rasio profitabilitas. BSI meraup laba bersih di atas Rp2 triliun dalam satu kuartal, sementara Return on Equity (ROE) perusahaan ikut terkerek ke level 19,4 persen. Anggoro menyampaikan, capaian tingkat pengembalian ekuitas ini merupakan rekor tertinggi sejak BSI berdiri lima tahun silam. Kondisi ini membuktikan tingginya efisiensi manajemen dalam mencetak laba sekaligus menggenjot pendapatan non-bunga.

“BSI mencatat pertumbuhan profit tertinggi di antara bank-bank besar, dan pertama kali dalam sejarah BSI satu kuartal profit kita lebih dari Rp2 triliun. Hal ini juga berdampak terhadap peningkatan fee-based income kita yang tumbuh 22,3 persen, utamanya dari bisnis emas,” kata dia.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar