Trump Umumkan Penundaan Pajak Bahan Bakar Federal di Tengah Lonjakan Harga Akibat Konflik dengan Iran

- Selasa, 12 Mei 2026 | 14:20 WIB
Trump Umumkan Penundaan Pajak Bahan Bakar Federal di Tengah Lonjakan Harga Akibat Konflik dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana untuk menangguhkan sementara pajak bahan bakar federal di tengah lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik militer negaranya dengan Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan ekonomi yang dirasakan langsung oleh konsumen Amerika di pompa bensin.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump mengakui bahwa pemotongan ini tidak akan berdampak besar secara persentase, tetapi tetap berarti bagi masyarakat. "Ini persentase kecil, tetapi Anda tahu itu tetap berarti," ujarnya.

Saat ini, pajak federal atas bahan bakar minyak (BBM) mencapai 18,4 sen per galon untuk bensin dan 24,4 sen per galon untuk solar. Pajak negara bagian, yang rata-rata sebesar 32,61 sen per galon untuk bensin dan 34,76 sen untuk solar, tidak akan tersentuh oleh kebijakan ini.

Untuk merealisasikan penangguhan tersebut, Trump memerlukan persetujuan Kongres. Partai Republik yang dipimpinnya memang menguasai mayoritas di kedua majelis, namun keunggulan tersebut sangat tipis sehingga proses legislasi diperkirakan tidak akan berjalan mulus.

Kenaikan harga BBM di Amerika Serikat terjadi secara drastis sejak Trump melancarkan operasi militer terhadap Iran. Data menunjukkan harga bensin dan solar telah melonjak sekitar 50 persen sejak akhir Februari. Pada Senin lalu, harga rata-rata satu galon bensin biasa mencapai 4,52 dolar AS, sementara solar berada di kisaran 5,64 dolar AS.

Jika kebijakan penangguhan pajak federal ini berhasil diterapkan, harga BBM diperkirakan akan turun sekitar empat persen. Meski terbilang kecil, langkah ini diharapkan dapat meredam tekanan ekonomi yang semakin membebani rumah tangga dan sektor transportasi di Amerika Serikat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar