Rupiah Terperosok ke Rekor Terendah Rp17.424 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Timur Tengah dan Beban Utang Pemerintah

- Minggu, 10 Mei 2026 | 11:20 WIB
Rupiah Terperosok ke Rekor Terendah Rp17.424 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Timur Tengah dan Beban Utang Pemerintah

Nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah tingginya ketidakpastian pasar global. Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh titik terendah dalam sejarah sebelum akhirnya ditutup dengan pelemahan tipis pada akhir perdagangan Jumat lalu. Para analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut pada awal pekan depan, meskipun terdapat potensi penguatan yang terbatas.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat terperosok ke level terlemahnya di posisi Rp17.424 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (5/5/2026). Angka tersebut menjadi rekor terendah yang pernah dicatatkan oleh mata uang Indonesia. Namun, rupiah kemudian menunjukkan perlawanan dan berhasil menguat ke kisaran Rp17.333 pada Kamis (7/5/2026) sebelum akhirnya kembali melemah tipis dan ditutup di level Rp17.382 pada Jumat (8/5/2026).

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa volatilitas ini masih akan berlanjut pada pembukaan pasar esok hari. “Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.380 hingga Rp17.430,” kata Ibrahim dalam risetnya, Minggu (10/5/2026).

Penyebab utama tekanan terhadap rupiah berasal dari memanasnya kembali suhu geopolitik di Timur Tengah. Harapan pasar akan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat menguat kini meredup setelah pertempuran kembali pecah. Kondisi ini mengancam stabilitas pasokan energi serta pembukaan Selat Hormuz, yang menjadi jalur strategis bagi distribusi minyak dunia.

Di sisi lain, perbedaan pandangan di internal bank sentral Amerika Serikat (The Fed) turut membingungkan pelaku pasar. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, melihat suku bunga akan stabil dalam waktu dekat. Sementara itu, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, justru menyuarakan kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi. Pasar kini menantikan data tenaga kerja AS bulan April untuk menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

“Para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan di AS untuk bulan April, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen. Laporan ini mungkin akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari laporan posisi utang pemerintah. Data Bank Indonesia mencatat total utang pemerintah per 31 Maret 2026 telah menembus angka Rp9.920,42 triliun. Angka tersebut mengalami kenaikan hampir tiga persen jika dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp9.637,9 triliun.

Dengan capaian ini, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto pada akhir kuartal I-2026 tercatat berada di level 40,75 persen. Kondisi beban fiskal ini menjadi perhatian pasar dan turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap mata uang domestik. Para pelaku pasar pun akan terus mencermati perkembangan data ekonomi global dan domestik untuk menentukan langkah selanjutnya. (Nur Ichsan Yuniarto)

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar