Di tengah gelombang ketidakpastian global yang tak kunjung reda, Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu negara yang cukup tanggap. Pernyataan ini datang langsung dari Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Menurutnya, respons yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan saat ini.
Lalu, langkah konkret apa yang sudah diambil? Di sektor energi, pemerintah tidak main-main. Mereka sedang gencar melakukan diversifikasi sumber pasokan. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan yang selama ini terpusat pada satu atau dua kawasan tertentu saja.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia perlu memastikan ketahanan nasional melalui kebijakan yang adaptif dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang,” tegas Airlangga dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Kerja sama dengan berbagai negara pun diperluas. Nigeria dan Gabon disebut sebagai contoh, ditambah beberapa negara alternatif lain. Semua itu demi satu hal: keamanan pasokan energi dalam negeri benar-benar terjamin.
Namun begitu, upaya tidak berhenti di situ. Kerja sama regional juga digenjot untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar olahan. Di sisi lain, kapasitas produksi dalam negeri sendiri tak luput dari perhatian. Akselerasi pemanfaatan biofuel, lewat program mandatori biodiesel yang dinaikkan, terus didorong.
Dampaknya diharapkan bisa dua arah. Pertama, ketergantungan pada impor bisa ditekan. Kedua, ketahanan energi nasional menguat, yang ujung-ujungnya tentu berpengaruh pada perekonomian.
"Upaya diversifikasi energi, penguatan kapasitas domestik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci,” tambah Airlangga. Kunci untuk apa? Untuk menjaga stabilitas dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ada lagi kebijakan seperti Domestic Market Obligation (DMO) dan bauran energi yang beragam. Ini rupanya cukup efektif menjaga stabilitas harga. Alhasil, gejolak harga komoditas di pasar global tidak serta-merta langsung terasa dampaknya oleh masyarakat biasa.
Bagaimana dengan sektor pangan? Upaya pemerintah di sini fokus pada menjaga ketersediaan pupuk. Caranya dengan mengendalikan harga gas untuk produksi pupuk, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi lokal. Kabarnya, sekarang malah sudah ada surplus untuk beberapa jenis pupuk, sampai-sampai bisa mulai diekspor ke sejumlah negara.
"Upaya tersebut merupakan bagian dari pembelajaran dari berbagai krisis global, termasuk pandemi, guna memastikan ketahanan nasional yang lebih kuat," pungkas Airlangga.
Jadi, itulah serangkaian langkah yang sedang dijalankan. Sebuah ikhtiar kolektif untuk tetap berdiri tegak, meski angin ketidakpastian terus menerpa.
Artikel Terkait
Calon Ketua Fed Warsh Tegaskan Independensi, Usung Perubahan Rezim
IHSG Dibuka Anjlok 0,41%, Pergerakan Sektor Beragam
Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Mundur Usai Ditunjuk Pimpin Pelindo Jasa Maritim
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Bervariasi: Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore