Latihan Militer AS-Filipina-Jepang di Utara Filipina Libatkan 17.000 Prajurit, China Protes

- Selasa, 21 April 2026 | 08:40 WIB
Latihan Militer AS-Filipina-Jepang di Utara Filipina Libatkan 17.000 Prajurit, China Protes

MANILA Latihan militer gabungan skala besar resmi dimulai Senin lalu. Ribuan pasukan dari Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang berkumpul di wilayah utara Filipina. Lokasinya strategis: menghadap langsung ke Selat Taiwan dan berdekatan dengan provinsi-provinsi yang jadi sengketa dengan China di Laut China Selatan.

Latihan bernama "Balikatan" atau "Bahu ke Bahu" ini rencananya bakal berlangsung hampir tiga minggu. Yang menarik, latihan ini melibatkan penembakan dengan amunisi sungguhan. Tidak main-main.

Menurut sejumlah saksi, Jepang mengerahkan sekitar 1.400 personelnya. Mereka bahkan menembakkan rudal jelajah anti-kapal Tipe 88. Sasaran tembaknya adalah sebuah kapal penyapu ranjau peninggalan Perang Dunia II. Kapal itu akhirnya karam di perairan lepas pantai Pulau Luzon.

Secara total, latihan ini melibatkan lebih dari 17.000 prajurit dari angkatan darat, laut, dan udara ketiga negara. Angkanya hampir sama dengan tahun lalu. Meski begitu, edisi 2025 kemarin juga diikuti kontingen dari Australia, Selandia Baru, Prancis, dan Kanada. Tahun ini fokusnya lebih tertuju pada tiga negara inti.

Latihan ini berlangsung di tengah situasi global yang memanas, terutama dengan perang AS dan Israel melawan Iran. Tapi, pihak AS bilang fokus mereka di kawasan ini tidak goyah.

“Terlepas dari tantangan di tempat lain di dunia, fokus Amerika Serikat pada Indo-Pasifik dan komitmen teguh kami kepada Filipina tetap tak tergoyahkan,” tegas Letnan Jenderal Christian Wortman, Komandan Pasukan Ekspedisi Marinir AS, dalam upacara pembukaan.

Wortman memperkirakan sekitar 10.000 personel AS terlibat. Dia tidak memberi angka pasti, tapi jumlah itu jelas menunjukkan besarnya skala operasi.

Di sisi lain, komandan militer Filipina, Jenderal Romeo Brawner, punya cerita. Katanya, Laksamana Samuel Paparo, kepala Komando Indo-Pasifik AS, menyebut Balikatan 2026 ini bakal jadi yang terbesar sepanjang sejarah.

“Melalui pertahanan udara dan rudal terintegrasi, operasi keamanan maritim, latihan tembak langsung, dan latihan kesiapan multinasional gabungan, negara-negara tersebut membangun sistem yang berpikir, bergerak, dan merespons sebagai satu kesatuan,” papar Brawner.

Latihan tahun ini juga akan menampilkan senjata-senjata canggih. Salah satunya adalah sistem rudal Typhon milik AS. Kehadirannya tentu jadi perhatian banyak pihak.

Namun begitu, China langsung merespons keras. Mereka mengecam latihan gabungan ini dan menyebut AS, Jepang, serta Filipina sedang "bermain api".

“Yang lebih dibutuhkan bagi kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenangan, dan yang paling tidak dibutuhkan adalah masuknya kekuatan eksternal untuk menabur perpecahan dan konfrontasi,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

Suara protes itu menggema, sementara di lapangan, latihan perang besar-besaran terus berlanjut. Suara tembakan dan dentuman masih akan terdengar selama beberapa hari ke depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar