Juru Bicara Bantah JK Emosional, Tegaskan Pernyataan untuk Luruskan Sejarah

- Minggu, 19 April 2026 | 15:20 WIB
Juru Bicara Bantah JK Emosional, Tegaskan Pernyataan untuk Luruskan Sejarah

JAKARTA – Klarifikasi Jusuf Kalla (JK) soal dugaan penistaan agama dan perannya dalam karier Joko Widodo, ramai jadi perbincangan. Menanggapi itu, juru bicaranya, Abdullah Husein, membantah keras bahwa mantan Wapres itu bersikap emosional saat konferensi pers, Sabtu lalu.

Bantahan ini disampaikan Husein menanggapi komentar Ketua Harian PSI Ahmad Ali, yang dalam pemberitaan menyebut JK terlihat terlalu emosional.

"Pak JK tidak emosional," tegas Husein, Minggu (19/4/2026).

"Tapi dia memang menyampaikan pernyataan dalam nada tinggi. Bukan karena emosi, lho. Itu lebih karena beliau ingin meyakinkan para loyalis Jokowi yang selama ini kerap menarasikan bahwa JK tidak tahu balas budi. Padahal, menurutnya, justru dialah yang punya jasa besar."

Husein mengungkapkan, JK sebenarnya sudah lama menahan diri untuk bicara. Namun, rupanya akhirnya merasa perlu untuk membeberkan fakta sejarah politik yang menurutnya mulai kabur.

JK akhirnya menceritakan momen krusial saat dirinya yang mengantarkan Jokowi bertemu Megawati Sukarnoputri, untuk diusung jadi calon Gubernur DKI.

"Tanpa ini," kata Husein, "kemungkinan nasibnya (Jokowi) beda lagi."

Sebelumnya, dalam konferensi pers itu, JK sendiri yang terbuka. Dengan nada tegas, dia mengungkit kembali perjalanan politik Jokowi yang tak lepas dari campur tangannya. Awalnya, dialah yang mengajukan nama Wali Kota Solo itu ke Megawati.

"Saya katakan saya seniornya. Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya membawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi gubernur," ujar JK.

Menurut penuturannya, Mega sempat menolak. Tapi pada akhirnya setuju. Dan saat Jokowi menang, JK mengenang bagaimana Jokowi datang bersamanya untuk berterima kasih kepada Ketum PDIP itu. Untuk memperkuat cerita, JK bahkan menunjukkan foto Jokowi yang sedang 'sungkem' kepadanya.

"Apa kurangnya saya coba? Saya bawa ke Jakarta," ucapnya.

Lalu dengan lantang dia menambahkan, "Kasih tahu semua itu. Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden."

Pernyataan-pernyataan itulah yang kini memantik perdebatan. Di satu sisi dianggap klarifikasi, di sisi lain dibaca sebagai luapan emosi. Tapi bagi jubirnya, itu sekadar upaya meluruskan sejarah yang selama ini, menurut mereka, diputar-balikkan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar