Bapanas Ungkap Kenaikan Harga Plastik Dorong Biaya Produksi Beras dan Gula

- Sabtu, 18 April 2026 | 21:40 WIB
Bapanas Ungkap Kenaikan Harga Plastik Dorong Biaya Produksi Beras dan Gula

Kenaikan harga plastik ternyata tak cuma bikin gerah industri kemasan. Komoditas pangan pokok seperti beras dan gula pun ikut merasakan dampaknya. Hal ini diungkapkan oleh I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Menurutnya, gejolak pasokan bahan baku plastik langsung berdampak pada pelaku usaha di dua sektor itu. Alasannya sederhana: industri beras dan gula masih sangat bergantung pada karung plastik untuk pengemasannya.

"Dengan adanya gejolak geopolitik, memang ada beberapa sedikit yang mengalami kenaikan. Salah satunya plastik karena ternyata biji plastik itu waste-nya dari pengolahan minyak bumi dan sumbernya dari Timur Tengah juga banyak,"

kata Ketut dalam keterangannya, Sabtu lalu.

Dari pertemuan dengan para pelaku usaha, terungkap bahwa beban tambahan akibat mahalnya plastik ini cukup signifikan. Untuk setiap kilogram beras, biaya produksi membengkak sekitar Rp350. Sementara pada gula, kenaikannya sekitar Rp150 per kilogram.

"Teman-teman pelaku usaha menyampaikan kalau di beras itu Rp350 per kilogram. Kalau di gula sekitar Rp150 per kilogram, artinya cukup berdampak dan ini yang harus kita jaga benar-benar untuk ke depannya,"

tuturnya lagi.

Meski begitu, situasi di lapangan belum sampai mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan Bapanas, harga rata-rata beras dan gula masih dalam batas wajar. Kenaikannya belum menyentuh level 5 atau 10 persen.

Per 16 April lalu, harga beras medium di berbagai zona hanya naik tipis dalam sebulan terakhir. Yang penting, harganya masih berada di bawah patokan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Ambil contoh, di Zona I, harganya hanya bergerak dari Rp12.964 per kg ke Rp12.965 per kg hampir tidak berubah. Zona II naik 0,27 persen, sementara Zona III naik sekitar 0,65 persen. Fluktuasinya memang ada, tapi masih terbilang kecil.

Nasib serupa dialami gula. Di sebagian besar wilayah Indonesia, harga rata-ratanya naik 2,06 persen dalam sebulan. Namun, ada sedikit cerita berbeda dari Indonesia Timur, di mana harga justru turun 1,22 persen.

"Kita harus diskusi mendalam karena kalau tidak, harga akan bisa agak sedikit terkoreksi. Kami juga merencanakan rapat besar, artinya dengan kementerian lembaga terkait, untuk mencarikan solusi, karena pengaruh Rp 350 memang terasa kecil, tapi berdampak karena per kilonya jadi naik,"

jelas Ketut menekankan pentingnya langkah antisipasi.

Di sisi lain, dari Kementerian Perindustrian datang nada yang agak berbeda. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan optimisme soal ketersediaan stok plastik dalam negeri. Pemerintah katanya sudah mempertemukan pelaku industri dari hulu ke hilir, termasuk sektor daur ulang, untuk menjamin pasokan.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,”

kata Agus dengan hati-hati.

Industri yang hadir, lanjutnya, juga berkomitmen menjaga suplai plastik, terutama untuk industri kecil. Tujuannya jelas: agar produk-produk mereka tetap bisa bersaing di pasar dengan harga yang terjangkau.

Jadi, meski ada tekanan dari kenaikan harga plastik, pemerintah mengklaim situasi masih terkendali. Tapi semua mata tetap tertuju pada perkembangan di Timur Tengah dan bagaimana dampaknya merambat ke sini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar