Kuartal pertama tahun 2026 mencatatkan pencapaian menarik bagi PT Kereta Api Indonesia. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 129.105 wisatawan mancanegara memilih kereta api jarak jauh sebagai moda transportasi mereka. Angka ini, menurut Anne Purba selaku Vice President Corporate Communication KAI, adalah yang tertinggi dalam kurun lima tahun terakhir.
“Kereta api kini semakin akrab bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan antarkota di Indonesia,” ujar Anne lewat keterangan resminya di akhir pekan, Sabtu (18/4).
“Angkanya tumbuh pelan tapi pasti,” tambahnya.
Kalau kita lihat ke belakang, tren kenaikan ini memang sudah terlihat. Di kuartal I 2022, jumlah penumpang wisman masih sekitar 26 ribu. Lalu melonjak drastis jadi lebih dari 103 ribu di tahun berikutnya. Peningkatannya terus berlanjut: 121 ribu di 2024, nyaris 129 ribu di 2025, dan akhirnya menyentuh 129.105 di awal 2026 ini. Pertumbuhannya stabil, dan itu cerita yang bagus.
Nah, apa sih yang bikin mereka tertarik? Ternyata, kemudahan membeli tiket secara online jadi faktor utama. Selain itu, jadwal perjalanan kereta yang bisa diprediksi dengan baik memberi rasa aman bagi para pelancong yang ingin menjelajahi Indonesia. Mereka tahu kapan berangkat dan kapan tiba.
“Kalau dilihat dari titik keberangkatannya, pergerakan wisatawan ini cukup terkonsentrasi di beberapa stasiun besar,” tutur Anne.
Dan data itu berbicara jelas. Stasiun Gambir di Jakarta memimpin dengan 20.881 keberangkatan wisman. Disusul oleh Yogyakarta (17.912) dan Bandung (11.371). Pasar Senen dan Surabaya Gubeng juga masuk dalam lima besar. Lalu ada Semarang Tawang, Malang, Surabaya Pasar Turi, Cirebon, serta Solo Balapan yang melengkapi daftar sepuluh stasiun tersibuk.
Dari daftar itu, kita bisa menebak daya tariknya. Yogyakarta, misalnya, tetap jadi magnet utama dengan budaya hidupnya yang kental dari hiruk-pikuk Malioboro hingga ketenangan kompleks candi. Bandung menawarkan hawa sejuk pegunungan dan segudang tempat kreatif yang selalu baru.
Semarang punya pesona kota tua yang autentik. Sementara Cirebon dan Solo, masing-masing punya kekayaan kuliner dan tradisi yang bikin penasaran.
Ke timur, Surabaya sering jadi gerbang menuju destinasi lain seperti Gunung Bromo. Malang, dengan ritme yang lebih santai, menawarkan keteduhan dan panorama alam yang memikat.
“Selama perjalanan, wisatawan bisa melihat langsung perubahan lanskap dari satu kota ke kota lain,” kata Anne menggambarkan pengalaman yang ditawarkan.
“Itu yang membuat perjalanan terasa lebih berkesan.”
Jadi, bukan cuma soal sampai di tujuan. Perjalanan itu sendiri, rupanya, sudah jadi bagian dari petualangan.
Artikel Terkait
Ketegangan Hormuz Kembai Meningkat, Iran Tutup Selat Usai Ancaman Blokade AS
Uber Siapkan Rp170 Triliun untuk Percepatan Layanan Taksi Otonom
Gelombang Pertama 322 Petugas Haji Diberangkatkan ke Madinah
PSIM Yogyakarta Terpaksa Main di Bali Tanpa Penonton Lawan Persija