Kementerian Kesehatan baru saja meluncurkan sebuah kebijakan baru: sistem pelabelan nutri-level. Intinya, ini adalah upaya untuk bantu kita, para konsumen, lebih paham soal kandungan nutrisi utama dalam makanan dan minuman kemasan. Gagasan ini muncul bukan tanpa alasan. Kasus penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi, terus meningkat. Dan salah satu pemicu utamanya? Konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan.
Selama ini, informasi gizi per sajian di kemasan memang ada. Tapi, jujur saja, bagi kebanyakan orang label itu terlihat rumit dan membingungkan. Nah, sistem yang baru ini hadir untuk menyederhanakan semuanya.
Apa Sebenarnya Nutri-Level Itu?
Singkatnya, nutri-level adalah sistem penilaian gizi yang ditampilkan dengan cara yang ringkas di kemasan. Bentuknya bisa bermacam-macam, misalnya kode warna atau huruf seperti A, B, C, D. Tujuannya satu: agar kita bisa menilai dengan cepat apakah suatu produk tergolong sehat atau justru perlu diwaspadai.
Konsep ini sebenarnya sudah diterapkan di beberapa negara dan didukung oleh organisasi kesehatan dunia. Dengan adanya label yang jelas ini, masyarakat diharapkan bisa lebih mudah membatasi asupan yang kurang baik bagi tubuh.
Di sisi lain, kebijakan ini juga memberi dampak ke produsen. Mereka akan terdorong untuk memperbaiki komposisi produk, agar mendapat nilai nutri-level yang lebih bagus. Jadi, semacam win-win solution, bukan?
Lalu, Bagaimana Cara Kerjanya?
Cara kerjanya, produk akan dinilai berdasarkan kandungan nutrisi utamanya. Hal-hal seperti kadar gula, garam, lemak jenuh, dan total kalori menjadi bahan pertimbangan. Serat dan protein juga dihitung sebagai nilai tambah.
Dari penilaian itu, produk kemudian dikategorikan. Huruf A biasanya untuk yang terbaik, sementara D menandakan produk yang konsumsinya perlu sangat dibatasi. Semakin sehat komposisinya, semakin tinggi nilainya.
Menurut sejumlah pengamat, penerapan sistem ini berpotensi membawa perubahan besar. Jika informasi sudah transparan dan mudah dicerna, masyarakat pasti bisa lebih selektif lagi belanja. Risiko penyakit kronis pun diharapkan bisa ditekan.
Namun begitu, semua harapan ini tentu tidak bisa digantungkan pada label semata. Keberhasilannya sangat bergantung pada edukasi yang masif dan, yang paling penting, kesadaran dari kita sendiri untuk benar-benar membaca dan memanfaatkannya.
Artikel Terkait
Program Makan Bergizi Tembus 27 Ribu Titik Layanan dan Libatkan 1,18 Juta Relawan
Berkas Perkara Ijazah Palsu Lima Tersangka Dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung
Kedatangan Patrick Kluivert ke Jakarta Banjir Sambutan, Latihan Barcelona Legends Terganggu