Fikri, Bocah Pemulung yang Viral, Kini Temukan Rumah Kedua di Sekolah Rakyat

- Jumat, 17 April 2026 | 17:50 WIB
Fikri, Bocah Pemulung yang Viral, Kini Temukan Rumah Kedua di Sekolah Rakyat

Kehidupan di jalanan Jakarta tak pernah mudah. Apalagi bagi seorang bocah berusia enam tahun bernama Fikri. Di usianya yang masih belia, ia sudah harus akrab dengan bau sampah dan panasnya aspal, memulung barang bekas demi sesuap nasi. Kisahnya sempat mengguncang jagat maya, lewat sebuah video yang beredar luas dan menyentuh hati banyak orang. Nah, dari situlah angin perubahan mulai berhembus. Negara akhirnya turun tangan, dan kini Fikri menemukan sebuah babak baru di Sekolah Rakyat.

Anak kedua dari pasangan Sri dan M. Ulmi ini hidupnya memang jauh berbeda dari teman sebayanya. Sementara anak-anak lain asyik bermain petak umpet atau belajar dengan orang tua, Fikri menghabiskan waktunya mengais botol plastik dan besi tua. Keadaan keluarganya pun rumit. Kedua orang tuanya telah berpisah, dan perceraian itu juga memisahkannya dari saudara-saudaranya.

Fikri dan adiknya, Noval yang masih empat tahun, tinggal bersama ayah kandungnya di ibu kota. Sementara itu, sang kakak harus ikut paman di Cianjur. Adik bungsunya sendiri hidup bersama ibu mereka yang telah membangun rumah tangga baru di Cibugel, Sumedang.

Namun begitu, lika-liku hidup Fikri tak berhenti di situ. Ayah sambung yang sempat merawatnya harus mendekam di penjara. Terpaksa, Fikri kembali memulung untuk membantu neneknya menafkahi dia dan adiknya. Saat itulah kamera tak sengaja merekam kegigihannya, dan video itu pun viral. Siapa sangka, rekaman yang menyayat hati itu justru menjadi pembuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Pihak kepolisian kemudian membawa Fikri ke ibunya di Sumedang. Sayangnya, kondisi ekonomi keluarga ibunya juga serba kekurangan. Mengingat Fikri sudah memasuki usia wajib belajar, muncul usulan untuk menempatkannya di Sekolah Rakyat. Tawaran itu diterima dengan baik.

Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 4 Sumedang pun menyambut kedatangannya pada akhir Maret 2026 lalu. Awalnya tentu tidak mudah. Dunia asrama dengan wajah-wajah baru membuatnya canggung dan murung. Tapi para wali asuh, guru, dan pengasuh di sana pantang menyerah. Perlahan-lahan, dengan kesabaran dan kasih sayang, mereka berhasil menaklukkan hati kecil Fikri.

Hasilnya? Kini, senyum dan tawa lepas lebih sering menghiasi wajahnya. Tingkah lucu dan polosnya membuat anak-anak yang lebih tua menyayanginya. Fikri pun akhirnya merasa betah.

"Aku tinggal di sini. Sekolahnya seru. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semua baik-baik," ujar Fikri dengan senyum malu-malu.

Bagi Fikri, Sekolah Rakyat lebih dari sekadar tempat belajar. Ini adalah rumah kedua, tempat ia menemukan pelukan hangat, tepukan penyemangat di punggung, dan usapan bangga di kepala saat ia berhasil melakukan sesuatu. Di sini pula ia akhirnya punya banyak teman untuk bercanda dan berlarian, sebuah kemewahan sederhana yang dulu tak terjangkau.

Hal mendasar lainnya yang kini tak perlu ia khawatirkan adalah perut kosong. Sekolah menyediakan makanan bergizi dengan menu yang enak-enak, membuatnya tumbuh kuat.

"Aku juga bisa makan, makanannya enak banget. Aku jadi kuat," katanya lagi, bersemangat.

Dari sudut jalanan yang keras, Fikri kini menapaki jalan baru yang penuh harapan. Perjalanannya mungkin baru dimulai, tapi setidaknya kini ada senyum, tawa, dan sepiring nasi hangat yang menantinya setiap hari.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar