BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah hingga 23 April

- Jumat, 17 April 2026 | 11:15 WIB
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah hingga 23 April

Jakarta sedang memasuki masa pancaroba. Cuaca pun jadi tak menentu, panas terik bisa tiba-tiba berganti hujan deras. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan peringatan dini soal kondisi ini, sekaligus memprediksi bahwa hujan masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah dalam sepekan ke depan, mulai 17 hingga 23 April 2026.

Faktanya, hujan dengan intensitas ringan sampai lebat sudah terjadi di beberapa daerah pada 13–15 April lalu. Bahkan, curah hujan ekstrem tercatat di Jawa Barat, tepatnya 167,4 milimeter per hari. Wilayah lain seperti Lampung, Papua Barat, Sumatera Utara, dan Riau juga mengalami hujan lebat dengan angka di atas 50 mm/hari.

“Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di beberapa wilayah, serta pengaruh spasial Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terpantau melintasi sebagian besar Sumatera dan Papua.

Selain itu, perlambatan angin dan pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari turut mendukung terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan,”

Begitu penjelasan BMKG dalam rilis resminya, Jumat (17/4/2026).

Lalu, ada juga Bibit Siklon Tropis 92S yang terpantau di Samudra Hindia barat daya Lampung. Ditambah lagi dengan sirkulasi siklonik di beberapa titik perairan. Kombinasi fenomena ini memicu pertemuan angin yang akhirnya meningkatkan peluang tumbuhnya awan hujan di sekitarnya.

Nah, untuk sepekan ke depan, prediksi cuaca kita masih akan dipengaruhi dinamika atmosfer yang kompleks. Secara global, fenomena ENSO dan IOD masih dalam fase netral. Tapi di skala regional, Monsun Australia justru semakin menguat. Akibatnya, udara kering dari benua tersebut mulai masuk ke Indonesia.

“Dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia juga mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai berangsur memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau,”

tambah BMKG.

Meski tanda-tanda kemarau mulai muncul, jangan kira hujan akan berhenti total. Potensinya masih ada, kok, akibat pengaruh dinamika atmosfer lain. Di Aceh dan Sumut, misalnya, aktivitas MJO dan gelombang Rossby Ekuatorial masih akan aktif. Sementara di Riau, Kalbar, Kalteng, dan Papua Selatan, gelombang Rossby Ekuatorial juga berperan.

Wilayah seperti Kalsel, Kaltim, hingga Sulawesi Tengah dan Selatan justru dipengaruhi gelombang Kelvin. Semua dinamika ini bisa memicu konvergensi angin yang mendukung awan hujan tumbuh.

Di tingkat lokal, kondisi atmosfer yang labil dan mendukung hujan tercatat merata di banyak provinsi. Mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, sampai Papua.

Lalu, seperti apa rincian potensi hujan untuk periode 17–23 April nanti?

Untuk tanggal 17–19 April, cuaca secara umum didominasi hujan ringan hingga lebat. Tapi waspadai peningkatan intensitas menjadi sedang-lebat di Aceh, sepanjang Sumatera bagian tengah dan selatan, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Wilayah Kalimantan, Sulawesi bagian utara dan tengah, serta hampir seluruh Papua juga berpotensi mengalami hal serupa.

Yang perlu ekstra hati-hati, hujan lebat hingga sangat lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang berpeluang terjadi di Aceh, Sumut, Banten, Jabar, Jatim, Malut, dan Papua. Statusnya siaga.

Memasuki periode 20–23 April, dominasi cuaca diperkirakan bergeser ke hujan ringan-sedang. Namun peningkatan hujan sedang-lebat masih mungkin terjadi di wilayah yang hampir sama dengan periode sebelumnya, dengan penambahan area seperti Bali dan Nusa Tenggara.

Zona siaga untuk hujan lebat-sangat lebat pada periode ini diprediksi meliputi Aceh, Sumut, Kepulauan Bangka Belitung, Jateng, Jatim, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Intinya, di masa peralihan musim ini, bersiaplah untuk segala kemungkinan. Panas terik bisa langsung berubah jadi hujan deras dalam sekejap.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar