Dzikir Subhanallah Wabihamdihi Disebut Ringan Diucapkan tapi Berat di Timbangan Amal

- Selasa, 14 April 2026 | 05:50 WIB
Dzikir Subhanallah Wabihamdihi Disebut Ringan Diucapkan tapi Berat di Timbangan Amal

JAKARTA - Dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, ada amalan sederhana yang sering terlupa. Dzikir. Iya, mengingat Allah. Bukan cuma ritual formal, tapi sebentuk keakraban dengan Sang Pencipta di segala suasana, susah maupun senang. Konon, bacaan dzikir tertentu itu ringan diucapkan lidah, tapi bobotnya luar biasa saat ditimbang nanti. Bahkan, Allah sendiri yang menyukainya.

Secara bahasa, dzikir itu artinya menyebut atau mengingat. Nah, dalam konteks agama, ia adalah upaya mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menyebut nama-Nya. Bisa dilakukan sendiri, bisa juga berjamaah. Yang penting, ada penghayatan mendalam di dalam hati. Bukan sekadar gerak bibir.

Allah sudah berjanji dalam firman-Nya di Surah Al-Baqarah ayat 152: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Menurut Ibnu Abbas, tafsir ayat ini cukup dalam. Ingat Allah kepada kita, katanya, jauh lebih besar dan banyak dibanding ingat kita kepada-Nya. Bayangkan.

Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan sabda dari Allah lewat hadis qudsi. Bunyinya kira-kira begini: "Barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam dirinya, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam diri-Ku; dan barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam suatu golongan, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam golongan yang lebih baik daripada golongannya."

Lalu, dzikir apa sih yang dimaksud? Yang ringan di lisan tapi berat di timbangan amal?

Jawabannya adalah kalimat: Subhanallah Wabihamdihi Subhanallahil 'Adhim.

Artinya, "Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung."

Dua kalimat mulia ini bersumber dari hadis riwayat Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda:

"Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai yang Maha Pengasih (Ar Rahman) yaitu Subhanallah wabihamdihi dan Subhaanallahulazhiim." (HR. Bukhari).

Kalimat "Subhanallah" sendiri punya makna yang dalam. Ia adalah bentuk pensucian. Bahkan, para malaikat mengucapkannya, seperti tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 32. Mereka berkata, "Maha Suci Engkau (Allah), tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Intinya, kata para malaikat itu, mereka tak tahu apa-apa kecuali ilmu yang Allah berikan. Sebuah pengakuan ketundukan total.

Ibnu Abbas menerangkan, "subhanallah" adalah pujian Allah untuk diri-Nya sendiri, yang menyucikan-Nya dari segala sifat kurang.

Kisahnya, Umar bin Khattab pernah bertanya pada Ali bin Abi Thalib. "Kalau makna 'la ilaha illallah' sudah kami paham, lalu apa makna 'subhanallah'?"

Ali pun menjawab dengan lugas. "Itu adalah kalimat yang Allah sukai untuk diri-Nya. Dia rela dan senang bila kalimat itu diucapkan."

Jadi, itulah dzikir yang dianjurkan. Singkat, mudah dihapal, tapi dampaknya luar biasa. Coba bayangkan, sesuatu yang disukai oleh Allah sendiri. Ada baiknya kita mulai mengamalkannya, kapan saja dan di mana saja.

Wallahu A'lam.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar