Retreat kedua pemerintahan Prabowo di Hambalang, Selasa lalu, dinilai banyak pihak sebagai sinyal yang kuat. Momentum evaluasi, begitu kira-kira. Pengamat politik Adi Prayitno melihatnya sebagai titik krusial bagi para menteri dan kepala badan untuk benar-benar membuktikan diri. Tahun pertama mungkin masih masa penyesuaian, tapi tahun kedua? Waktunya kerja keras dengan kecepatan penuh.
Publik, menurut Adi, memaknai acara ini sebagai ajang presiden memberi arahan yang terukur. “Kalau di tahun pertama underperform masih bisa dimaklumi, sekarang enggak lagi. Harus tuntas,” katanya.
Ia menegaskan, para pembantu presiden wajib meningkatkan kinerja secara berlipat. Iramanya harus seirama.
“Presiden sudah ngebut dengan ‘gigi enam’, maka menterinya harus mengikuti irama tersebut. Agar persoalan kebangsaan bisa diselesaikan setuntas-tuntasnya,” ujar Adi dalam ulasannya di YouTube.
Dalam retreat itu, Prabowo menyoroti sejumlah capaian. Salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut sukses besar. Angkanya fantastis: 99,99% keberhasilan dengan 55 juta penerima manfaat hanya dalam setahun.
Bandingkan dengan Brasil, misalnya. Negeri itu butuh waktu hingga 11 tahun untuk menjangkau 40 juta orang. Di sisi lain, ke depan sasaran MBG bakal diperluas. Tidak hanya untuk anak sekolah dan ibu hamil, tapi juga para guru dan tenaga pendidik.
Namun begitu, Adi menyelipkan catatan kritis. Badan Gizi Nasional diminta waspada. Kendala teknis seperti kasus keracunan atau miskomunikasi politik yang sempat terjadi harus diminimalisir. Jangan sampai menimbulkan resistensi di masyarakat.
Selain MBG, bahasan penting lain adalah penanggulangan bencana. Beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Jawa Tengah jadi perhatian. Presiden menegaskan Indonesia sebagai bangsa besar yang mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.
“Harapannya, recovery pasca-bencana berjalan cepat. Aktivitas masyarakat yang sempat lumpuh bisa normal kembali di awal tahun ini,” tambah Adi.
Menutup ulasannya, Adi berharap eksekusi program di tahun kedua ini bisa jadi stimulus. Pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan meroket ke angka 6-7 persen. Target itu dibarengi dengan pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya serta penurunan angka kemiskinan dan pengangguran secara signifikan. Semua mata kini tertuju pada realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
BNPB: Ribuan Jiwa Terdampak Banjir dan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia
PSG Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti, Pertahankan Gelar Liga Champions
Final Liga Champions 2025/2026: PSG vs Arsenal Berujung Adu Penalti setelah 120 Menit Imbang 1-1
Perempuan Indramayu Korban TPPO Modus Pengantin Pesanan Pulang Setelah Lima Bulan Alami Kekerasan di China