Iran bersikukuh. Menurut mereka, kendali penuh atas selat sempit itu ada di tangan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Setiap kapal yang bergerak tanpa izin berisiko diserang. Posisinya jelas: mereka yang berkuasa di perairan itu.
Analis Maria Sultan, Direktur Jenderal Asian Strategic Stability Institute, melihat celah dalam narasi ini. Menurutnya, jika pun ada kapal AS yang bisa bergerak bebas, itu pasti seizin Tehran.
"Jadi dapat dipahami, jika Iran tidak memberikan jalur aman, mustahil bagi armada militer AS untuk bergerak bebas di Selat Hormuz," jelas Maria.
Belakangan, muncul bukti visual yang menarik. Televisi negara Iran, IRIB, menyiarkan potongan video. Dalam rekaman itu, terlihat armada IRGC memperingatkan kapal perang AS untuk menjauh. Ancaman ditembak menggantung di udara. Dan yang terjadi? Kapal AS itu memilih mundur. Mereka berbalik arah.
Jadi, siapa yang sebenarnya bermanuver di Selat Hormuz? Laporan resmi dan rekaman di lapangan berkisah hal yang bertolak belakang. Satu hal yang pasti, ketegangan di sana belum juga mereda.
Artikel Terkait
Kebijakan WFH ASN Turunkan Jumlah Penumpang LRT Jabodebek 10 Persen
Arbeloa Tegaskan Real Madrid Tak Akan Menyerah di Pengejaran Gelar La Liga
BSI Proyeksikan 83% Jamaah Haji Reguler 2026 adalah Nasabah Tabungan Haji
Tiang Listrik Keropos Ambruk di Mangga Besar, Lalu Lintas Sempat Lumpuh