Meski laporan menyebut Iran tak berminat melanjutkan pembicaraan, Baqaei mencoba tak menutup semua pintu. Dia menekankan bahwa jalur diplomasi dengan Negeri Paman Sam tetap terbuka, sekalipun sempit.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi telah bertolak pulang. Dalam pernyataannya, dia menyalahkan kegagalan ini pada persoalan nuklir Iran.
Vance mengklaim AS sudah mengajukan penawaran terakhir dan terbaik mereka. Sayangnya, syarat-syarat itu ditolak mentah-mentah oleh Iran.
"Saya rasa ini menjadi kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS. Jadi kita kembali pada situasi di mana AS belum mencapai kesepakatan," katanya, dengan nada yang terkesap sedikit sinis.
Proses yang alot ini ternyata juga disorot langsung dari atas. Presiden Donald Trump, dengan gaya khasnya, menyatakan bahwa apapun hasil perundingan ini, posisi AS tidak akan tergoyahkan.
"Alasannya karena kami sudah menang. Kami sedang berunding cukup serius dengan Iran, apapun hasilnya, kami tetap menang. Kami telah mengalahkan mereka secara militer," tegas Trump.
Perundingan ini menghadirkan tim yang cukup berat dari kedua sisi. AS mengirimkan Wakil Presiden Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Sementara Iran datang dengan rombongan besar lebih dari 70 orang, dipimpin oleh Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Pertemuan yang megah, tapi hasilnya nol besar.
Artikel Terkait
Negosiasi AS-Iran Buntu, Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Tiang Listrik Roboh di Mangga Besar Akibat Beban Kabel Optik, Lalu Lintas Tersendat
Thailand Juara Piala AFF Futsal 2026 Usai Kalahkan Indonesia 2-1
Pedagang Tahu Bulat di Depok Ditangkap Usai Perlihatkan Kelamin ke Pembeli