Perundingan panjang antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad akhirnya berujung pada jalan buntu. Setelah hampir sehari penuh berunding, kedua negara itu gagal menemukan titik temu. Bisa dibilang, 21 jam yang melelahkan itu sia-sia belaka.
Dua isu besar menjadi ganjalan utama: program nuklir Iran dan siapa yang mengendalikan Selat Hormuz. Pihak AS bersikeras agar Iran menghentikan semua aktivitas pengayaan uraniumnya. Mereka juga mendorong agar ada pengaturan bersama untuk selat strategis itu, yang menjadi jalur vital minyak dunia. Tapi, tampaknya posisi kedua belah pihak masih terlalu berjauhan.
Dari kubu Iran, suara kekecewaan langsung terdengar. Mohammad Bagher Ghalibaf, Juru Bicara Parlemen yang memimpin delegasi, menyatakan sebenarnya negaranya punya niat baik untuk menghentikan peperangan.
"Tapi karena pengalaman dari dua perang sebelumnya, kami tidak percaya dengan pihak lawan," ujarnya lewat sebuah postingan di media sosial.
Ghalibaf merasa delegasi AS gagal mendapatkan kepercayaan dari timnya selama proses negosiasi berlangsung. Meski begitu, dia menyisipkan apresiasi untuk Pakistan, tuan rumah yang berperan sebagai mediator.
"Saya juga berterima kasih atas upaya negara sahabat dan saudara kami Pakistan, dalam memfasilitasi proses perundingan ini, dan saya menyampaikan salam kepada rakyat Pakistan," tambahnya.
Pernyataan serupa datang dari juru bicara lain. Esmaeil Baqaei dari Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi kepada televisi lokal IRIB bahwa perbedaan pendapat terjadi setidaknya pada dua atau tiga poin krusial. Belum lagi sejumlah isu lain yang juga tidak sepaham.
Artikel Terkait
Negosiasi AS-Iran Buntu, Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Tiang Listrik Roboh di Mangga Besar Akibat Beban Kabel Optik, Lalu Lintas Tersendat
Thailand Juara Piala AFF Futsal 2026 Usai Kalahkan Indonesia 2-1
Pedagang Tahu Bulat di Depok Ditangkap Usai Perlihatkan Kelamin ke Pembeli