Iran baru saja mengeluarkan pengecualian penting terkait kebijakan ketatnya di Selat Hormuz. Menurut pernyataan resmi militer mereka, Irak tidak akan terkena dampak pembatasan navigasi yang berlaku di jalur air vital itu. Pengecualian ini tentu menarik perhatian banyak pihak.
Juru Bicara Militer Iran, Ibrahim Zolfaqari, dengan tegas menyampaikan keputusan tersebut.
“Irak telah dikecualikan dari pembatasan yang kami terapkan di Selat Hormuz,” katanya.
Namun begitu, ia menegaskan bahwa aturan keras itu tetap berlaku untuk kapal-kapal lain. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Israel, beserta sekutu-sekutu mereka, masih harus berhadapan dengan larangan itu. Zolfaqari bahkan menyelipkan pesan persatuan.
“Rakyat Irak dan Iran akan menang bersama dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel ini,” ujarnya.
Kebijakan pembatasan ini sendiri bukan hal baru. Diumumkan tak lama setelah perang dengan AS dan Israel memanas akhir Februari lalu, aturan itu langsung mengguncang pasar global. Selat Hormuz, seperti kita tahu, adalah urat nadi ekspor minyak dan gas dunia. Tehran bersikap keras: mereka mengancam akan menghajar kapal apa pun yang coba lewat tanpa koordinasi lebih dulu. Padahal, sebelumnya, selat ini ramai dilintasi sekitar 20 juta barel minyak setiap harinya.
Dampaknya langsung terasa. Biaya pengiriman dan asuransi melonjak, yang pada gilirannya mendorong harga minyak naik. Kekhawatiran akan goncangan ekonomi global pun semakin menjadi.
Semua ini berawal dari serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari. Serangan itu diklaim menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Iran tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan gelombang serangan drone dan rudal, tidak hanya ke Israel tetapi juga menyasar Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Korban jiwa berjatuhan, infrastruktur rusak, pasar global kacau, dan lalu lintas penerbangan pun ikut terganggu.
Dalam situasi tegang seperti ini, pemberian pengecualian untuk Irak bisa dilihat sebagai langkah politik yang cerdik. Upaya untuk merangkul sekutu di tengah konflik yang makin meluas.
Artikel Terkait
Empat Bocah Tenggelam di Sungai Ponorogo, Satu Tewas dan Satu Kritis
West Ham United Degradasi ke Championship meski Hajar Leeds 3-0 di Laga Pamungkas
Hercules Bantah Tudingan Intimidasi, Sebut Istri Jadi Korban Teror WhatsApp Ahmad Bahar
Listrik Sumut Pulih 100 Persen, Warga Medan Desak Kompensasi dari PLN