Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Aksi Lebih Dahsyat

- Sabtu, 04 April 2026 | 07:20 WIB
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Aksi Lebih Dahsyat

Ledakan mengguncang Kharaj, Iran. Jembatan besar yang hampir selesai itu hancur berantakan oleh serangan AS, menewaskan delapan orang. Insiden ini, menurut Teheran, hanyalah puncak gunung es dari serangkaian agresi. Dan sekarang, balasannya dijanjikan akan lebih keras.

Ebrahim Zolfaghari, juru bicara komando militer Khatam Al Anbiya, tak main-main dengan peringatannya. Ia menyatakan serangan Iran ke depan akan jauh lebih dahsyat. Pernyataan panas ini meluncur sebagai jawaban langsung atas ancaman Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan "membawa Iran kembali ke zaman batu" dengan menghancurkan infrastruktur vital mereka mulai dari pembangkit listrik hingga pabrik desalinasi.

"Kami peringatkan sekali lagi," tegas Zolfaghari, dikutip dari kantor berita ISNA akhir pekan lalu. "Jika ancaman itu benar-benar dilakukan, angkatan bersenjata kami tidak akan tinggal diam. Sasaran kami akan lebih luas dan signifikan, menyentuh area investasi negara-negara sekutu rezim AS di kawasan. Serangan yang kami lancarkan akan lebih kuat."

Alasan Washington menyerang jembatan itu, katanya untuk memutus distribusi rudal, dianggap Iran sebagai dalih. Faktanya, belum ada bukti konkret yang menunjukkan struktur sipil itu dipakai untuk keperluan militer.

Di sisi lain, Zolfaghari juga menyelipkan seruan. Ia mendesak negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mendorong AS menarik pasukannya dari kawasan. "Agar mereka terhindar dari dampak kerusakan," ujarnya. Pesannya jelas: kehadiran AS adalah sumber ketegangan.

Semua ini bukan aksi pertama. Sejak operasi militer gabungan AS-Israel akhir Februari lalu, Iran sudah melancarkan pembalasan. Sasaran mereka bukan cuma fasilitas militer. Misi diplomatik, kantor perusahaan AS, dan berbagai kepentingan Washington di wilayah itu sudah kebagian giliran. Intensitasnya, kata mereka, akan naik beberapa tingkat.

Jadi, ancaman sudah dilontarkan dari kedua sisi. Timur Tengah sekali lagi menegang, menunggu siapa yang akan berani memicu percikan berikutnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar