Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang difasilitasi Pakistan, disebut-sebut masih berlangsung. Klaim ini datang langsung dari Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, perundingan menunjukkan kemajuan yang positif.
Tapi, Trump tak banyak bertele-tele. Dia enggan merinci apa sebenarnya kemajuan itu apakah menyangkut gencatan senjata atau pembukaan Selat Hormuz. Hal itu dibiarkannya menggantung.
Dalam wawancaranya dengan The Financial Times yang dilansir Aljazeera, Senin lalu, Trump malah bicara soal target militer. "Kita masih punya sekitar 3.000 target. Sudah 13.000 yang dibom, dan masih ada beberapa ribu lagi yang harus diselesaikan," ujarnya.
Tapi di tengah nada keras itu, dia menyelipkan harapan. "Kesepakatan bisa dicapai dengan cukup cepat," imbuh Trump.
Menariknya, Trump juga menyebut sebuah "hadiah" dari Iran untuk Gedung Putih. Katanya, Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz. Bahkan, jumlahnya disebut digandakan atas persetujuan ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
"Dialah yang mengizinkan pengiriman kapal-kapal itu kepada saya," kata Trump dengan nada percaya diri.
Lalu dia berkomentar, "Ingat, saya bilang mereka memberi saya hadiah? Waktu itu banyak yang cuma bilang, 'Apa hadiahnya? Omong kosong.' Sekarang mereka diam, dan negosiasi justru berjalan sangat baik."
Di sisi lain, pertemuan tingkat tinggi juga digelar di Islamabad. Para menteri luar negeri dari Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Pakistan berkumpul membahas perang AS-Iran serta dampaknya di Timur Tengah. Pertemuan ini diadakan atas undangan Menlu Pakistan Ishaq Dar.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Pakistan, pertemuan itu bertujuan meninjau situasi regional yang terus berkembang dan membahas isu-isu bersama. Pakistan sendiri dipandang punya posisi unik: punya hubungan lama dengan Teheran sekaligus kontak dekat di Teluk.
Tak hanya itu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan panglima tentara Pakistan dikabarkan punya hubungan pribadi dengan Trump. Faktor ini mungkin jadi salah satu alasan Pakistan dipercaya jadi perantara.
Meski Teheran secara resmi belum mengakui adanya pembicaraan langsung dengan Washington, sumber anonim dari kantor berita Iran Tasnim mengungkap, Iran sudah menyampaikan tanggapan terhadap rencana perdamaian 15 poin Trump tentu saja, melalui jalur Islamabad.
Sebelumnya, PM Shehbaz Sharif mengaku telah berbicara telepon lebih dari satu jam dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Percakapan itu rupanya mendalami upaya diplomatik Pakistan.
Pezeshkian pun menyampaikan terima kasih. Islamabad dihargai atas upaya mediasinya untuk menghentikan agresi.
Jadi, meski pernyataan resmi masih tertutup dan situasi di lapangan tetap tegang, ada beberapa benang yang mulai terlihat. Setidaknya, menurut klaim Trump, pembicaraan masih berjalan. Dan Pakistan, dengan segala jaringan dan hubungan pribadinya, tampaknya jadi penengah yang sibuk.
Artikel Terkait
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Belanja Modal AS Jadi 7,8%, AI dan Insentif Pajak Jadi Pendorong Utama
Alwi Farhan Tembus 16 Besar Singapore Open 2026 Usai Tekuk Wakil Prancis
Warner Bros Discovery Naikkan Nilai Pinjaman Jadi 15 Miliar Dolar AS Jelang Akuisisi oleh Paramount
MNC Peduli dan KEK MNC Lido City Salurkan 11 Hewan Kurban ke Warga Kabupaten Bogor