Kalau dilihat trennya dalam enam tahun terakhir, sejak Januari 2020 hingga Januari 2026, ketimpangan ini makin menjadi. Simpanan kelas atas melesat tinggi dengan pertumbuhan hampir 92%. Sementara itu, kelas menengah dan bawah tertinggal jauh, hanya tumbuh sekitar 34% dan 30%. Bukan cuma lambat, kualitas simpanan kelas bawah pun disebut merosot. Dulu rata-rata saldonya Rp2,89 juta, sekarang tinggal Rp1,68 juta.
"Salah satu penyebab melonjaknya jumlah rekening kelompok terbawah mungkin karena harus membuat rekening baru, ketika menerima bantuan sosial atau ikut program tertentu. Rekening sebenarnya tidak berfungsi optimal sebagai sarana menabung,"
tutur Awalil memberi penjelasan. Artinya, pertumbuhan jumlah rekening itu belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan, bisa jadi hanya sekadar administrasi untuk menerima bantuan.
Fenomena ini seharusnya jadi alarm, sebuah peringatan keras bagi para pembuat kebijakan. Konsentrasi aset keuangan yang begitu tinggi pada segelintir orang berisiko memperparah ketimpangan sosial-ekonomi ke depannya.
“Fenomena simpanan Bank Umum ini perlu dipertimbangkan oleh otoritas ekonomi sebagai salah satu indikator ketimpangan ekonomi. Jika ditambahkan dengan kepemilikan atas surat berharga, ketimpangan kepemilikan aset keuangan dipastikan makin mencolok,”
tegas Awalil. Data simpanan bank ini hanyalah satu potret. Bayangkan jika digabung dengan kepemilikan saham dan obligasi, gap antara si kaya dan yang lain mungkin akan terlihat lebih menganga lagi.
Artikel Terkait
Prabowo Perintahkan Pembangunan Hunian Layak Usai Blusukan di Pinggir Rel Senen
Kemenhub Optimalkan Buffer Zone dan Tambah Kapal Antisipasi Puncak Arus Balik Ketapang-Gilimanuk
Menteri Keuangan Bantah Isu Krisis, Proyeksikan Ekspansi Ekonomi hingga 2030
Transjakarta Rayakan HUT ke-12 dengan Tarif Spesial Rp12 Sepanjang Hari