Firdaus Oiwobo, pengacara yang namanya kerap mencuat karena aksi-aksinya, kali ini membongkar cerita lama. Bukan soal kasus hukum yang ditanganinya, melainkan sebuah pengakuan personal yang cukup mengejutkan: dia mengaku pernah membakar rumah seseorang.
Pria berdarah Indonesia Timur ini berbicara blak-blakan. Karakternya, katanya, dibentuk oleh latar belakangnya. Bagi Firdaus, orang Timur punya prinsip tertentu, terutama soal konfrontasi. "Kami tidak suka cara-cara yang tidak jelas," ujarnya, dengan nada tegas.
"Orang Timur itu kalau ribut ya datang saja. Datang langsung. Tidak perlu lempar batu sembunyi tangan."
Pernyataannya itu dia sampaikan saat ditemui di kawasan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Minggu lalu. Suasana saat itu terkesan santai, tapi topik yang dibahas sama sekali tidak.
Dari prinsip itulah, pengakuannya tentang pembakaran rumah muncul. Menurut Firdaus, kejadian itu terjadi di Cengkareng, Jakarta Barat. Dia tak menyebut detail kronologi atau siapa korbannya. Yang jelas, aksinya dilakukan secara frontal, tanpa tedeng aling-aling.
"Apalagi saya. Kalau saya tidak senang, saya samperin. Saya pernah bakar rumah orang di Cengkareng, ya saya bakar saja."
Yang lebih mencengangkan, saat melakukan itu, dampak hukum sama sekali tidak dia pikirkan. Penjara? Itu urusan nanti. Baginya, yang penting tanggung jawab moral sebagai orang Timur terpenuhi: berani berbuat, berani hadir. Bukan membuat teror dari balik bayang-bayang.
"Urusan penjara itu belakangan," tuturnya, menegaskan poinnya. "Jadi bukan sifat kami melakukan teror sembunyi-sembunyi seperti itu."
Pengakuan ini tentu menambah panjang daftar kontroversi yang melekat pada dirinya. Publik sudah mengenal Firdaus Oiwobo sebagai figur yang nyentrik. Beberapa waktu lalu, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dia bahkan sempat naik ke atas meja saat membela kliennya, Razman Arif Nasution. Adegan itu viral, memperkuat kesan tentang seorang pengacara yang tak hanya garang di atas kertas, tapi juga dalam aksi.
Kini, dengan kisah masa lalunya yang terbuka, image itu semakin lengkap. Sebuah potret yang kompleks, di antara prinsip, tindakan ekstrem, dan konsekuensi yang sengaja diabaikan.
Artikel Terkait
Lovely Runner hingga Goblin: Deretan Drama Korea Paling Adiktif untuk Ditonton Ulang
Hanggini Umumkan Kelahiran Anak Pertama, Sempat Alami Keguguran Sebelumnya
Maia Estianty Larang Warganet Tanyakan Soal Kehamilan ke El Rumi dan Syifa Hadju: Itu Takdir, Bukan Konsumsi Publik
Prilly Latuconsina Jalani Misi Rescue Diver di Red Bull Cliff Diving 2026, Bertahan Lebih dari Dua Jam di Laut