Soal digital, superapps BYOND by BSI sudah dipakai 6,3 juta pengguna dengan total transaksi mencapai 125,4 juta. Di sisi intermediasi, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14,76 persen menjadi Rp366 triliun, didorong kenaikan tabungan sebesar 16,06 persen. Ini bisa dibaca sebagai sinyal kepercayaan masyarakat yang semakin baik.
Likuiditas mereka tetap terjaga dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) di level 88,20 persen. Fee based ratio pun ikut naik ke 24,59 persen. Singkatnya, struktur pendapatan BSI makin seimbang antara margin dan komisi, yang tentu memperkuat ketahanan bisnis di tengah gejolak pasar.
Ke depan, BSI tampak optimis. Mereka yakin bisa pertahankan pertumbuhan yang sehat sepanjang 2026, dengan mengandalkan ekosistem syariah, transformasi digital, dan tentu saja, bisnis emas yang masih jadi andalan.
Di luar angka-angka bisnis, BSI juga terlibat dalam sejumlah program sosial. Mereka berkontribusi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), antara lain dengan menyediakan virtual account dan pembiayaan pembangunan dapur senilai Rp194,50 miliar untuk 145 lokasi.
Dukungan pada program pemerintah juga berjalan. BSI mendorong realisasi koperasi KDMP. Hingga Februari 2026, penyaluran KUR mereka capai Rp1,65 triliun. Untuk program rumah subsidi FLPP, realisasinya Rp94,82 miliar untuk 582 unit rumah, sementara penyaluran KPP di angka Rp259 miliar.
Semua capaian ini, pada akhirnya, menggambarkan sebuah bank yang tak hanya mengejar pertumbuhan finansial, tapi juga berusaha menyelaraskannya dengan dampak sosial yang lebih luas.
Artikel Terkait
Analisis LPS: 0,02% Rekening di Atas Rp5 Miliar Kuasai 57,69% Total Simpanan Bank
Kemenkeu Jelaskan Status Kurang Bayar Rp50 Juta dalam Laporan Pajak Menkeu Purbaya
ASDP Antisipasi Puncak Arus Balik Kedua di Ketapang-Gilimanuk Akhir Pekan
Iran Siapkan Aturan Tarif Tol untuk Kapal yang Melintasi Selat Hormuz