Darurat Energi Filipina: Banyak Pesawat Terpaksa Tak Terbang
MANILA Situasi di Timur Tengah ternyata dampaknya merembet jauh. Hingga ke langit Filipina. Presiden Ferdinand Marcos Jr. akhirnya mengambil langkah tegas, Selasa (24/3/2026) lalu, dengan menetapkan status darurat energi nasional. Pemicunya sederhana namun dampaknya luar biasa: pasokan bahan bakar yang seret, ditambah lonjakan harga yang tak terkendali.
Akibatnya, bukan hal mustahil kalau nantinya banyak pesawat komersial bakal menganggur di hanggar. "Kami sebenarnya berharap tidak terjadi, tapi ini adalah kemungkinan yang nyata," ujar Marcos dalam wawancaranya dengan Bloomberg.
Peringatannya jelas. Penghentian operasional pesawat karena kehabisan avtur bukan lagi sekadar ancaman, melainkan sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
Masalahnya berlapis. Beberapa negara, katanya, kini menolak mengisi bahan bakar untuk pesawat-pesawat yang membendera Filipina. Alhasil, maskapai terpaksa membawa avtur ekstra dari tanah air untuk perjalanan pulang-pergi. Cara ini tentu saja memberatkan dan jelas-jelas berdampak buruk pada rute-rute jarak jauh.
Di sisi lain, maskapai sudah mulai bergerak. Cebu Pacific, maskapai low-cost terkemuka di sana, mengumumkan penangguhan sementara sejumlah rute. Mereka juga memangkas frekuensi penerbangan mulai April hingga Oktober 2026. Alasannya langsung ke pokok persoalan: harga bahan bakar jet melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata harga di tahun 2025.
Artikel Terkait
Bocah 6 Tahun Tewas Tenggelam di Pantai Gratis Singkawang
Ledakan Misterius Guncang Kawasan Utara Beirut, Diduga dari Rudal Pencegat
Angin Puting Beliung di Sabu Raijua Robohkan Gudang, Kerugian Capai Rp520 Juta
Kontras Ekstrem: Harga Pasar Kapten Indonesia vs Saint Kitts and Nevis Capai 400 Kali Lipat