"Nah, pada tanggal hari ini, transaksi itu sudah di atas Rp21 triliun. Siapa saja di antaranya adalah ritel, kemudian pusat-pusat perbelanjaan, Tanah Abang di antaranya, kemudian perhotelan,"
jelas Eliawati. Gayanya lugas, seolah ingin menegaskan bahwa ini bukan angka isapan jempol belaka.
Di sisi lain, capaian Jakarta ini ternyata jauh meninggalkan kota-kota besar lain di Jawa. Eliawati membandingkan, transaksi di Semarang hanya berkisar Rp8,46 miliar. Surabaya pun tak jauh berbeda, berada di angka sekitar Rp6 miliar. Jaraknya sangat signifikan, bukan main.
Menurutnya, lonjakan ini tidak lepas dari strategi Pemprov DKI yang gencar menggelar lomba diskon. Program itu rupanya berhasil memancing minat belanja masyarakat. Jadi, geliat ekonomi di Jakarta selama Ramadan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sebuah ikhtiar yang terencana. Suasana religius berpadu dengan dinamika pasar, menciptakan sebuah fenomena ekonomi yang cukup menarik untuk dicermati.
Artikel Terkait
Ribuan Umat Muslim Diprediksi Padati Masjid Istiqlal untuk Salat Idulfitri 2026
Perang dengan Iran Borong Rp5,4 Triliun Anggaran Israel per Hari
Sopir Bus Relakan Mudik Demi Antar Penumpang Pulang Kampung
Rest Area KM 207A Cirebon Sepi Usai Arus Mudik Surut