Takbiran di Jakarta: Gemerlap Perayaan dan Kisah Perempuan Perantau yang Pilih Tak Mudik

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:40 WIB
Takbiran di Jakarta: Gemerlap Perayaan dan Kisah Perempuan Perantau yang Pilih Tak Mudik

Jakarta tak pernah benar-benar tidur, apalagi di malam takbiran. Meski hujan gerimis sempat turun di kawasan Bundaran HI Jumat malam lalu, semangat perayaan justru tak surut. Pengunjung malah terus berdatangan, membaur dengan gemerlap lampu dan hiasan yang sudah dipasang.

Setelah hujan deras mereda, kerumunan orang pun kembali membanjiri area bundaran. Payung dan jas hujan warna-warni jadi pemandangan umum. Mereka bertahan, tak ingin kehilangan momen untuk berfoto di dekorasi yang instagramable itu. Suasana riuh rendah khas malam sebelum Lebaran pun kembali terasa.

Tak lama kemudian, bunyi bedug yang khas mulai terdengar lagi, memecah keheningan yang sempat terbawa hujan. Lantunan selawat pun menyusul, mengudara dan menambah nuansa khidmat di tengah keramaian. Gabungan antara yang sakral dan yang meriah itu seperti menjadi ciri khas takbiran di ibu kota.

Di tengah kerumunan, ada tiga perempuan asal Padang yang memilih merayakan momen ini jauh dari kampung halaman. Lian, Windi, dan Vina mereka semua karyawati yang merantau di Jakarta. Alasan mereka sederhana sekaligus cukup relatable: menghindari ‘interogasi’ keluarga soal status pernikahan.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar