Wall Street ditutup di zona merah pada Jumat kemarin. Sentimen pasar masih ditarik-tarik oleh perang di Timur Tengah yang sudah berlangsung sebulan penuh. Konflik antara Iran dengan AS dan Israel ini, selain mengguncang harga energi, juga mulai mengubah perhitungan investor soal arah suku bunga The Fed ke depan.
Dow Jones anjlok 110,31 poin ke level 45.911,12. S&P 500 ikut melemah 0,71 persen, sementara Nasdaq terpukul paling dalam dengan penurunan hampir 1,2 persen. Data itu dikutip dari Reuters.
Di lapangan, situasinya masih panas. Belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Malah, kabar terbaru menyebut Iran menyerang fasilitas minyak di Kuwait. Yang bikin was-was, ada laporan bahwa pemerintahan Donald Trump sedang mempertimbangkan langkah ekstrem: menduduki atau memblokade Pulau Kharg milik Iran. Tujuannya jelas, mendesak Teheran membuka kembali Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent sendiri bergerak naik-turun sepanjang hari, akhirnya bertengger di sekitar 108 dolar AS per barel. Negara-negara besar pun dikabarkan berupaya keras menstabilkan pasokan energi global, meski hasilnya belum terlihat.
Namun begitu, ada secercah sinar di tengah awan kelam. FedEx, yang kerap jadi tolok ukur kesehatan bisnis dunia, justru memberikan proyeksi yang cukup optimis. Perusahaan itu bilang permintaan global masih stabil meski geopolitik sedang kacau. Sahamnya langsung melonjak 3,4 persen, dan menarik pesaingnya, UPS, untuk ikut naik 0,6 persen.
Tapi, investor jelas belum bisa bernapas lega. Mereka masih sibuk menghitung dampak mahalnya harga minyak terhadap laba perusahaan, apalagi kita sudah di penghujung kuartal pertama.
Artikel Terkait
Gubernur DKI dan Wagub Akan Salat Idulfitri di Balai Kota, KH Maruf Amin Jadi Khatib
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Idulfitri dan Ajak Perkuat Persatuan Bangsa
Transaksi Ekonomi Jakarta Tembus Rp21 Triliun Selama Ramadhan
Kapolri Pantau Langsung Pengamanan Malam Takbiran, 72 Ribu Personel Dikerahkan