Wall Street Merosot, Pasar Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah dan Ketidakpastian Suku Bunga

- Jumat, 20 Maret 2026 | 22:20 WIB
Wall Street Merosot, Pasar Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah dan Ketidakpastian Suku Bunga

Wall Street ditutup di zona merah pada Jumat kemarin. Sentimen pasar masih ditarik-tarik oleh perang di Timur Tengah yang sudah berlangsung sebulan penuh. Konflik antara Iran dengan AS dan Israel ini, selain mengguncang harga energi, juga mulai mengubah perhitungan investor soal arah suku bunga The Fed ke depan.

Dow Jones anjlok 110,31 poin ke level 45.911,12. S&P 500 ikut melemah 0,71 persen, sementara Nasdaq terpukul paling dalam dengan penurunan hampir 1,2 persen. Data itu dikutip dari Reuters.

Di lapangan, situasinya masih panas. Belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Malah, kabar terbaru menyebut Iran menyerang fasilitas minyak di Kuwait. Yang bikin was-was, ada laporan bahwa pemerintahan Donald Trump sedang mempertimbangkan langkah ekstrem: menduduki atau memblokade Pulau Kharg milik Iran. Tujuannya jelas, mendesak Teheran membuka kembali Selat Hormuz.

Harga minyak mentah Brent sendiri bergerak naik-turun sepanjang hari, akhirnya bertengger di sekitar 108 dolar AS per barel. Negara-negara besar pun dikabarkan berupaya keras menstabilkan pasokan energi global, meski hasilnya belum terlihat.

Namun begitu, ada secercah sinar di tengah awan kelam. FedEx, yang kerap jadi tolok ukur kesehatan bisnis dunia, justru memberikan proyeksi yang cukup optimis. Perusahaan itu bilang permintaan global masih stabil meski geopolitik sedang kacau. Sahamnya langsung melonjak 3,4 persen, dan menarik pesaingnya, UPS, untuk ikut naik 0,6 persen.

Tapi, investor jelas belum bisa bernapas lega. Mereka masih sibuk menghitung dampak mahalnya harga minyak terhadap laba perusahaan, apalagi kita sudah di penghujung kuartal pertama.

“Kalau situasi ini berlarut-larut, perusahaan-perusahaan akan mulai melaporkan tekanan harga dalam laporan laba mereka. Efeknya bisa merambat ke seluruh rantai pasokan,” ujar Joe Saluzzi, co-head of equity trading di Themis Trading.

Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Konflik ini ternyata juga mempersulit kerja bank-bank sentral. Serangkaian keputusan moneter pekan ini, termasuk dari The Fed, menunjukkan betapa rumitnya mereka merumuskan kebijakan di tengah ketidakpastian. Gubernur The Fed, Christopher Waller, bahkan berencana menyampaikan perbedaan pendapat. Dia ingin mendorong pemotongan suku bunga, meski data pekerjaan dan lonjakan harga minyak justru meningkatkan ancaman inflasi.

Akibatnya, keyakinan pasar pun goyah. Meski para pembuat kebijakan AS masih bicara tentang setidaknya satu kali pemotongan suku bunga tahun ini, para trader justru semakin skeptis. Menurut data LSEG, mereka sekarang memprediksi pemotongan baru akan terjadi pada 2027. Mundur jauh dari perkiraan sebelumnya di Desember 2026.

Indikator ketakutan pasar, CBOE Volatility Index (VIX), mencerminkan kekhawatiran itu. Indeks itu melonjak 1,25 poin, menembus level 25.

Jadi, pada akhir sesi, ketiga indeks utama masih terperosok. Dow bertahan di 45.911,12, S&P 500 di 6.559,91, dan Nasdaq tersungkur di 21.831,68. Pasar menunggu perkembangan selanjutnya dengan napas tertahan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar