Di sinilah gaya Hodak menarik perhatian.
Dia kayaknya nggak mau buang waktu bikin tim dari nol. Lebih milih cari pemain yang udah ‘jadi’, yang mentalnya udah teruji di tekanan tinggi. Asnawi dan Arhan itu bukan proyek latihan mereka langsung bisa dipasang. Akselerasi murni.
Lalu, ada satu lagi isu yang mengemuka: naturalisasi.
Beberapa tahun belakangan, pemain naturalisasi udah jadi bagian dari strategi sepak bola nasional. Mereka bawa kualitas dan pengalaman yang berbeda. Kalau Persib serius masuk ke jalur ini, gambaran tim mereka makin jelas: perpaduan antara lokal, diaspora, dan pemain yang udah biasa di panggung internasional.
Formula yang nggak cuma buat menang di Liga 1, tapi buat sesuatu yang lebih besar.
Namun begitu, rencana sehebat apapun selalu punya tanda tanya.
Ini strategi matang atau cuma reaksi gegabah karena tekanan buat menang? Apa dengan datangkan bintang-bintang berlabel langsung jadi jaminan tim jadi solid? Atau malah bikin ketergantungan? Sepak bola kita udah sering lihat proyek ambisius yang gagal karena tim nggak kompak.
Tapi dari polanya, Persib kayaknya nggak cuma asal kumpulin nama besar. Mereka lagi coba bikin identitas baru: tim yang lebih cepat, lebih kuat dalam duel, dan lebih siap hadapi tempo cepat ala Asia.
Dan di balik layar, Hodak tetap bekerja dengan caranya: dalam diam. Nggak banyak omong, nggak banyak janji. Biarkan waktu yang bicara.
Musim depan masih lama. Tapi batu pertamanya, pelan-pelan, sudah mulai ditata.
Artikel Terkait
Pemudik Tersesat Ikuti Google Maps, Terperosok ke Jurang di Tasikmalaya
Takbiran di Jakarta: Gemerlap Perayaan dan Kisah Perempuan Perantau yang Pilih Tak Mudik
Penjualan Tiket Mudik KAI 2026 Tembus 82%, Okupansi Kereta Jarak Jauh Lampaui 100%
Gubernur DKI dan Wagub Akan Salat Idulfitri di Balai Kota, KH Maruf Amin Jadi Khatib