Percepatan penggunaan kendaraan listrik, lanjut dia, punya dampak ganda. Selain berpotensi menekan konsumsi BBM nasional secara signifikan, juga bisa meringankan tekanan pada pasokan energi dalam negeri.
Belum lagi soal cadangan batu bara. Ketersediaannya yang masih besar di dalam negeri bisa jadi penopang. Faktor ini akan menjaga stabilitas pasokan listrik jika tiba-tiba terjadi gangguan di pasar global.
Untuk jangka pendek, Sofyano menilai pemanfaatan kompor listrik adalah langkah paling realistis. Kenapa? Karena ia langsung menyasar konsumsi LPG rumah tangga yang selama ini masih didominasi barang impor.
Tapi dia mengingatkan, elektrifikasi jangan cuma jadi reaksi sesaat. "Ini harus jadi bagian dari strategi jangka panjang. Tujuannya membangun sistem energi yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Bukan cuma respons karena ada konflik di belahan dunia lain," tegas Sofyano.
Jadi, jalan menuju kemandirian energi memang masih panjang. Namun, langkah awal dengan mendorong listrik di sektor domestik dan transportasi ini setidaknya sudah memberi arah yang jelas.
Artikel Terkait
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa Menjelang Lebaran 2026
Tiket Bus ke Sumatera dan Jawa Naik Daun, Terminal Pulo Gebang Mulai Ramai Pemudik
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa untuk Ramadan Ini
Warga Serpong Pilih Gowes ke Palembang untuk Mudik Lebaran