Di tengah gejolak pasokan energi dunia yang makin tak menentu, langkah Presiden Prabowo Subianto mendorong kompor dan kendaraan listrik mendapat sorotan. Menurut sejumlah pengamat, strategi ini bukan sekadar wacana. Ia dinilai bisa memperkuat ketahanan energi Indonesia dari guncangan luar.
Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria melihat arahan presiden itu sebagai langkah yang tepat sasaran. "Ini strategis banget untuk mengurangi ketergantungan kita pada impor, terutama BBM dan LPG," ujarnya.
Dia berbicara di Jakarta, Rabu lalu. Menurut Sofyano, elektrifikasi harus digenjot lebih serius. Soalnya, posisi Indonesia saat ini masih rentan. Kita masih sangat bergantung pada energi impor yang distribusinya lewat jalur-jalur rawan seperti Selat Hormuz.
"Ya, kondisi kayak gini bikin ketahanan energi nasional kita gampang goyah kalau ada masalah geopolitik di luar," kata Sofyano lagi.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya punya modal yang cukup. Kapasitas produksi listrik kita relatif melimpah. Nah, potensi inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menggeser konsumsi energi fosil, mulai dari dapur rumah tangga sampai kendaraan di jalan.
"Dengan kapasitas listrik yang ada, program elektrifikasi bisa mengalihkan penggunaan energi yang masih impor. Contohnya LPG untuk masak atau BBM untuk mobil," jelasnya.
Artikel Terkait
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa Menjelang Lebaran 2026
Tiket Bus ke Sumatera dan Jawa Naik Daun, Terminal Pulo Gebang Mulai Ramai Pemudik
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa untuk Ramadan Ini
Warga Serpong Pilih Gowes ke Palembang untuk Mudik Lebaran