Gabungan semua data buruk itu, ditambah dengan prospek suram dampak perang, akhirnya mengubah ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed. Kalau sebelum perang, banyak yang yakin bakal ada pemotongan suku bunga tak lama setelah musim panas, kini harapan itu menipis drastis.
Pada Selasa lalu, alat pantau FedWatch dari CME menunjukkan sesuatu yang menarik. Pasar sekarang cuma mengharapkan satu kali penurunan suku bunga hingga akhir tahun, dan itu pun kemungkinan baru terjadi setelah September. Perubahan ekspektasi yang cukup signifikan.
Perlu diingat, The Fed sebenarnya sudah memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut di akhir tahun lalu. Tapi levelnya masih tetap lebih tinggi dari yang diinginkan oleh Presiden Donald Trump.
Trump sendiri tak pernah sungkan menyuarakan ketidakpuasannya. Ia berulang kali menghina dan mengkritik ketat Jerome Powell. Bahkan, upaya untuk menggulingkan Gubernur The Fed Lisa Cook juga disebut-sebut bagian dari tekanan politiknya.
Jadi, pertemuan kali ini bukan cuma soal angka dan data ekonomi belaka. Tapi juga tentang bagaimana bank sentral paling berpengaruh di dunia ini menavigasi badai perang, tekanan politik, dan ketidakpastian pasar yang makin menjadi-jadi.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran 2026 Capai 1,2 Juta Kendaraan, Jasa Marga Terapkan Sistem Satu Arah
Pedagang Samping Jalan Pantura Cirebon Raup Omzet hingga Rp1,5 Juta Saat Puncak Mudik
MUI dan NU Sahkan Pembayaran Zakat Fitrah Secara Digital
Microsoft Ancam Gugat OpenAI dan Amazon Soal Kerja Sama Cloud Rp850 Triliun