Yang patut dicatat, hampir seluruh utang pemerintah ini berjangka panjang. Pangsa nya mencapai 99,98%. Struktur seperti ini memberi ruang napas yang lebih lega untuk pengelolaan keuangan negara.
Lain cerita dengan sektor swasta. Di sini, justru terjadi penurunan. Posisi utang luar negeri swasta pada Januari 2026 tercatat USD193 miliar, turun dari USD194 miliar di bulan sebelumnya. Secara tahunan, kontraksinya mencapai 0,7%, lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan ini terutama didorong oleh berkurangnya utang dari perusahaan non-lembaga keuangan. Jika dilihat per sektor, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar. Bersama dengan jasa keuangan, pengadaan listrik, dan pertambangan, keempat sektor ini menguasai 80,1% dari total utang swasta.
Jadi, secara keseluruhan bagaimana? Struktur utang luar negeri Indonesia masih didominasi utang jangka panjang, dengan porsi mencapai 85,6%. Bank Indonesia menegaskan, koordinasi dengan pemerintah akan terus diperkuat. Tujuannya jelas: memantau perkembangan utang, menjaga stabilitas ekonomi, dan memastikan pembiayaan pembangunan berjalan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Shifa Nurhaliza Putri
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Dikabarkan Dirawat di Rusia Usai Dugaan Serangan
Hashim Minta ASN Junior Diprioritaskan Dapat Rumah Subsidi, Tawarkan Internet Rp100 per Bulan
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Jadi Pintu Masuk Investasi Industri Teknologi Tinggi
Pemudik Ramai Pilih Berangkat Malam untuk Hindari Panas dan Mokel