Namun begitu, di balik biaya besar itu, Hassett tetap tenang. Ia menepis mentah-mentah skenario terburuk tentang krisis ekonomi yang dipicu perang. Argumennya sederhana: dampak gangguan pasokan energi global justru akan lebih keras dirasakan oleh negara-negara lain, bukan AS.
Memang, kepanikan sempat merayap setelah Iran membatasi akses ke Selat Hormuz. Jalur sempit itu amat vital, menjadi lalu lintas bagi seperlima minyak dunia. Tapi bagi Hassett, gangguan di Teluk Persia itu adalah masalah bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.
Dengan nada percaya diri, ia pun menyimpulkan, “Kita punya banyak sekali minyak.”
Klaimnya jelas: fondasi energi dalam negeri yang kuat menjadi tameng utama AS. Jadi, meski perang berkecamuk dan dana besar mengalir, sang penasihat ingin dunia percaya bahwa perekonomian Amerika tetap berdiri dengan stabil.
Artikel Terkait
Kebijakan WFA Jelang Lebaran Turunkan Jumlah Penumpang Commuter Line 29 Persen
Output Industri China Tumbuh 6,3% di Awal 2026
KPK Buka Peluang Jerat Pelaku Swasta dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Lebaran 2026: 40 Ribu Pemudik Berangkat dari Stasiun Senen dan Gambir di Hari Puncak