PSSI nggak mau buru-buru. Soal pencarian pelatih baru untuk Timnas Wanita Indonesia, mereka memilih untuk berhati-hati. Ada dua syarat utama yang ditekankan oleh Vivin Cahyani Sungkono, Exco PSSI yang juga Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Timnas Wanita. Menurutnya, calon pelatih harus punya pengalaman melatih tim nasional dan, yang tak kalah penting, pernah menangani tim wanita.
“Walaupun pengalaman pegang klubnya panjang, tapi kalau belum pernah pegang timnas itu pasti beda,” ucap Vivin dalam percakapan telepon dengan kumparanBOLANITA, Jumat lalu.
Ia menjelaskan, atmosfer dan tekanan di level timnas jauh berbeda. Beban yang harus dipikul pelatih lebih kompleks, tidak hanya soal taktik di lapangan.
Di sisi lain, pengalaman spesifik menangani pemain wanita menjadi pertimbangan krusial. Vivin menilai, pendekatannya tidak bisa disamakan begitu saja dengan tim putra. Ada banyak hal yang perlu penyesuaian.
“Karena tim putri ini handling-nya benar-benar beda,” katanya.
“Kalau tim putra mungkin bisa lebih ngurusin teknik, non-teknisnya nggak banyak. Tapi kalau putri kan banyak sekali non-teknisnya yang juga harus diperhitungkan, dan itu mempengaruhi performa pada saat pertandingan juga.”
Menurut Vivin, menunjuk pelatih tanpa latar belakang itu terlalu berisiko. Bisa-bisa malah merugikan semua pihak. “Kasihan nanti dua-duanya. Coach-nya nggak masuk komunikasinya, anak-anaknya juga kasihan,” ungkapnya. Ia khawatir terjadi miskomunikasi yang justru menghambat perkembangan tim.
Proses rekrutmen pelatih timnas, baik putra maupun putri, memang punya bobot yang lain. Tanggung jawabnya lebih berat, mencakup banyak hal. Vivin menegaskan, konsekuensi dari pilihan yang salah bisa sangat besar.
“Begitu kita salah milih dan hasilnya nggak bagus, waktunya terbuang, belum APBN yang kita gunakan. Jadi pertanggungjawabannya berat, secara moral maupun materil. Jadi kita harus benar-benar hati-hati,” pungkasnya.
Sementara proses seleksi berjalan, Timnas Wanita Indonesia masih berada di bawah asuhan Akira Higashiyama. Pelatih asal Jepang ini bukan wajah baru. Ia sudah mendampingi Garuda Pertiwi di berbagai turnamen, mulai dari level usia muda hingga yang terakhir di SEA Games 2025.
Artikel Terkait
Menteri ESDM Soroti Izin Tambang Dikuasai Perusahaan Jakarta, Janji Kembalikan ke Daerah
Wamenkes Tegaskan Rumah Sakit Dilarang Tolak Pasien karena Status BPJS Nonaktif
Produksi Gula Nasional 2025 Capai 2,67 Juta Ton, Fondasi Menuju Swasembada
Dasco Ingatkan Kader Gerindra: Pertahankan Kemenangan Lebih Berat