Ia menuntut hukuman setimpal. “Hukuman ini sebagai pesan tegas dunia olahraga Indonesia adalah wilayah terlarang bagi pelaku kekerasan,” tegasnya. Tujuannya jelas: efek jera. Agar masa depan atlet tak ada lagi yang dikorbankan.
Lalu, bagaimana mencegah hal serupa di sepak bola? Vivin punya sejumlah catatan. Sistem perlindungan atlet harus diperkuat, mulai dari advokasi korban hingga penegakan regulasi. Kode etik yang melarang segala bentuk kekerasan juga perlu ditegakkan. Tak kalah penting, edukasi berkelanjutan buat atlet, pelatih, dan ofisial soal batasan perilaku profesional.
“Kita ingin para atlet fokus pada prestasi tanpa dibayangi rasa takut atau tekanan,” paparnya. Upaya ini, menurut Vivin, adalah tanggung jawab bersama. Bukan cuma federasi. “Kita harus memastikan dunia sepakbola Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, profesionalitas, dan rasa hormat,” tandasnya.
Pesan mereka jelas. Gelanggang olahraga harus steril dari teror. Prestasi, bukan trauma, yang harus dibawa pulang oleh atlet.
Artikel Terkait
Maarten Paes Cetak Clean Sheet, Bawa Ajax Hajar Sparta 4-0
AS Ancam Hancurkan Pulau Kharg, Iran Balas Ancaman Serang Infrastruktur Minyak Global
Kevin Diks Puji Gol Spektakuler Stöger, Monchengladbach Bangkit Usai Dihajar Bayern
Iron Dome Kewalahan, Iran Klaim Punya Cadangan Rudal untuk Dua Tahun Perang