Strateginya mencakup banyak hal, mulai dari pengoperasian jalur fungsional, penguatan armada, optimalisasi teknologi, hingga peningkatan kesiapan infrastruktur dan layanan di rest area.
Pusat kendali JMTC sendiri sudah dilengkapi teknologi canggih. Mereka memanfaatkan machine learning dan artificial intelligence (AI) untuk membaca pola lalu lintas dari waktu ke waktu. Hasil analisisnya jadi dasar untuk menerapkan rekayasa lalu lintas yang lebih responsif.
Dari sisi teknologi layanan, Jasa Marga terus mendorong penggunaan aplikasi Travoy. Mereka juga menyiapkan empat jalur fungsional di ruas-ruas tol yang rawan macet, seperti Jakarta–Cikampek II Selatan, Yogyakarta–Bawen, Jogja–Solo, dan Probolinggo–Banyuwangi.
Soal kesiapan lapangan, persiapannya cukup masif. Jasa Marga akan menyiagakan 124 unit mobile customer service, 55 ambulans, 37 kendaraan rescue, hampir 200 unit derek, dan lebih dari 100 kendaraan Patroli Jalan Raya. Belum lagi ratusan petugas, ribuan peralatan pengarah lalu lintas, dan puluhan posko operasional yang tersebar.
Untuk kenyamanan pengendara, tersedia 64 rest area 59 di antaranya operasional dan 5 bersifat fungsional. Ada juga 10 SPBU dan rest area alternatif di luar tol yang lokasinya tetap mudah dijangkau.
Sebagai penutup, Jasa Marga mengimbau masyarakat untuk memeriksa kondisi kendaraan sebelum berangkat. Patuhi aturan lalu lintas dan arahan petugas di lapangan. Tujuannya satu: agar perjalanan mudik Lebaran 2026 nanti bisa aman dan nyaman untuk semua.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Merak Masih Sepi, Penumpang Turun 19,4%
Bakoel Bamboe Ekspansi ke IKN dan Kalimantan, Siapkan IPO
Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Ditingkatkan ke Tahap Penyidikan
Arus Mudik Lebaran 2026 Sudah Bergerak, Puncak Diprediksi 18 Maret