Namun, setelah tiga dekade mengabdi, pada Desember 2023, keramaian itu punah. Warung Makan Utama akhirnya menutup pintunya. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan mangkrak. Halamannya ditumbuhi ilalang, dinding-dindingnya rusak dan dipenuhi coretan vandalisme. Sunyi.
Nasib serupa menimpa Rumah Makan Pagi-Sore yang bergaya Minang di Kecamatan Saradan. Letaknya tak jauh dari Utama. Tempat yang dulu megah itu sekarang mangkrak, dengan papan 'dijual/disewakan' terpampang. Pagarnya cuma diberi ranting-ranting pohon untuk mencegah orang masuk. Berada di kawasan hutan, kesan angker lebih kuat ketimbang nostalgia.
Tapi, kematian bisnis kuliner di jalur ini tidak mutlak. Masih ada yang bertahan, meski banyak yang kini hanya mengandalkan pelanggan lokal. Di Caruban, Warung Makan Titin masih ramai. Rahasianya sederhana: lokasinya dibangun persis di pintu keluar tol. Banyak bus antarprovinsi sengaja keluar tol sebentar, hanya untuk makan dan istirahat singkat kurang dari satu jam, sebelum kembali melanjutkan perjalanan di jalur cepat.
Entah sudah berapa banyak warung makan yang gulung tikar di sepanjang jalur Solo-Surabaya, dari Ngawi hingga Mojokerto. Jalan tol memang menghadirkan kemudahan yang tak terbantahkan perjalanan jadi lebih singkat dan nyaman. Namun di sisi lain, kehadirannya melemahkan denyut ekonomi di jalur lama secara nyata.
Bagi mereka yang pernah merasakan hiruk-pikuknya puluhan tahun lalu, jalur lama ini kini hanya menyisakan kenangan. Sebuah memori dari era yang bergerak lebih pelan, yang kian tertinggal oleh deru waktu yang makin cepat.
Artikel Terkait
Menperin Soroti Potensi Besar Indonesia Jadi Pusat Modest Fashion Global
Bupati Cilacap Diamankan KPK, Dibawa ke Jakarta untuk Pemeriksaan
Presiden Prabowo Imbau Pejabat Hindari Open House Mewah dan Waspadai Dampak Gejolak Global
Pemerintah Pastikan Stok LPG Aman dengan Alihkan Impor dari Timur Tengah ke AS