Gairah industri fesyen muslim global terus menggelora. Ini tak lepas dari pertumbuhan populasi muslim dunia, yang secara langsung mendorong pasar modest fashion melesat. Tapi menariknya, tren ini sekarang jauh lebih inklusif. Berkat derasnya arus informasi di media sosial, modest fashion tak lagi eksklusif untuk kalangan muslim saja. Semua orang mulai tertarik.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melihat peluang besar di sini. Data dari State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025 cukup berbicara: konsumsi fesyen muslim dunia tembus USD327 miliar di tahun 2023. Angka itu diproyeksikan melonjak hingga USD433 miliar pada 2028.
“Hal ini menunjukkan bahwa industri modest fashion memiliki prospek pasar yang sangat besar dan harus berkembang sehingga mampu membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai produsen sekaligus pusat tren modest fashion dunia,” ujar Menperin di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Potensi Indonesia sebenarnya sudah terlihat nyata. Ekspor modest fashion kita ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) pada 2023 mencapai USD990 juta. Itu artinya terjadi lompatan fantastis, naik 83 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya USD540 juta. Pencapaian ini menempatkan Indonesia di posisi tujuh besar eksportir ke negara OIC.
“Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 83 persen jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya mencapai USD540 juta, dan hal ini membuat Indonesia menjadi negara tujuh tertinggi ekspor ke negara OIC,” tegas Menperin.
Namun begitu, persaingan di pasar ini tetap ketat. China, Turki, dan India masih mendominasi ekspor fesyen ke negara-negara OIC. Itu sebabnya, menurut Menperin, semua pemangku kepentingan punya pekerjaan rumah untuk mendongkrak peran Indonesia.
“Ini menjadi tugas semua stakeholder untuk meningkatkan peran Indonesia dalam pasar fesyen muslim dunia,” tuturnya.
Di sisi lain, optimisme justru datang dari dalam negeri. Reni Yanita, Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), meyakini Indonesia punya modal kuat. Bukan cuma sebagai pasar yang luas, tapi juga sebagai produsen yang berpotensi jadi pemain utama.
“Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain utama industri modest fashion global dengan sektor industri yang padat karya,” ujarnya.
Data BPS 2024 mencatat ada 594 ribu industri kecil pakaian jadi yang menyerap tenaga kerja hingga 1,2 juta orang. Modest fashion kini memang sudah jadi tren global, diminati berbagai kalangan lintas budaya. Konsepnya terus berevolusi, menjadi lebih inklusif dan universal.
Menurut Reni, kreativitas desainer lokal, kekayaan budaya, dan bahan tekstil berkualitas adalah identitas yang tak ternilai. Tak heran, laporan SGIER yang sama menempatkan Indonesia di peringkat pertama untuk ekosistem lokal yang mendukung perkembangan industri ini.
“Potensi tersebut turut diperkuat oleh capaian Indonesia, yang berdasarkan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025 berhasil menduduki peringkat pertama dalam ekosistem lokal yang mendukung perkembangan industri modest fashion,” kata Reni.
Kolaborasi dan Momentum Halal
Ada angin segar lain yang berhembus. Mulai Oktober 2026, sertifikasi halal akan berlaku wajib untuk barang gunaan, termasuk produk fesyen. Ini bisa jadi momentum strategis. Kebijakan ini bukan cuma soal jaminan kualitas dan keamanan, tapi juga nilai tambah di mata konsumen global.
Sebagai negara yang menerapkan sertifikasi halal secara komprehensif, produk Indonesia punya diferensiasi yang unik. Standar halal yang terintegrasi ini membuka peluang lebih lebar untuk menembus pasar negara berpenduduk muslim besar, bahkan pasar global yang kini mementingkan aspek etika dan keberlanjutan.
“Melalui sinergi kebijakan industri, inovasi desain, serta penerapan sertifikasi halal sebagai standar mutu global, Indonesia diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai pusat modest fashion dunia sekaligus meningkatkan kontribusi industri fesyen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan ekspor nonmigas,” ujar Dirjen IKMA.
Reni menegaskan, kolaborasi adalah kunci. Dia mengajak semua pihak, dari asosiasi, pelaku usaha, desainer, hingga influencer dan marketplace, untuk bersinergi.
“Perkembangan industri modest fashion tidak lepas dari peran berbagai pihak. Untuk itu, kami mengajak seluruh stakeholder baik asosiasi, industri tekstil, pelaku usaha, desainer, akademisi, influencer, marketplace hingga konsumen untuk dapat mewujudkan industri modest fashion yang berkelanjutan dan berdaya saing,” tuturnya.
Dia juga memberi apresiasi untuk event seperti Ramadan Runway yang digelar APPMI, yang kini sudah memasuki tahun ke-14. Event semacam ini dianggap vital untuk memperkuat ekosistem.
Budi Setiawan, Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, punya pandangan menarik. Bulan Ramadan, katanya, bukan cuma waktu untuk ibadah dan refleksi. Tapi juga momentum penggerak ekonomi kreatif.
“Diharapkan acara ini mampu menjadi ruang ekspresi kreatif bagi para desainer, pelaku industri kreatif, serta pecinta modest fashion untuk menampilkan karya terbaik sekaligus menginspirasi gaya berbusana yang santun, berkarakter, dan tetap mengikuti perkembangan tren modern,” kata Budi.
Jadi, jalan menuju pusat modest fashion dunia masih panjang. Tapi dengan semua potensi dan langkah strategis yang mulai diambil, peluang itu bukan lagi sekadar impian.
Artikel Terkait
Kapal Pesiar Miliarder Rusia yang Disanksi AS Lintasi Selat Hormuz Tanpa Hambatan
Menhub Evaluasi Sistem Elektrifikasi dan Palang Pintu KRL Usai Kecelakaan Maut di Stasiun Bekasi Timur
Rejuvenasi Peninsula Island di The Nusa Dua Capai 14,42 Persen, Akses Water Blow Hampir Rampung
Taylor Swift Daftarkan Merek Dagang Suara dan Wajah sebagai Tameng Hukum Lawan Deepfake AI