Namun begitu, pengalihan rute ini bukan tanpa konsekuensi. Waktu tempuh bakal lebih panjang. Bisa jauh lebih panjang. Imbasnya, pesawat-pesawat dengan jangkauan terbatas harus mendarat untuk isi bahan bakar di negara ketiga. Belum lagi soal slot waktu penerbangan yang harus diatur ulang agar jadwal keberangkatan dan kepulangan tetap tepat waktu.
“Tentu seperti yang saya sampaikan tadi, berpotensi menambah biaya penerbangan,” ujar Gus Irfan. Ya, anggaran pasti membengkak karena penambahan jarak dan waktu tempuh itu.
Di sisi lain, ada skenario kedua yang lebih hati-hati. Bagaimana jika Saudi membuka pintu, tapi Indonesia justru memutuskan untuk membatalkan? Opsi ini diambil jika risiko dinilai terlalu besar bagi nyawa jemaah.
Kalau sampai ini terjadi, pemerintah akan turun tangan lewat jalur diplomasi. Negosiasi tingkat tinggi dengan Kerajaan Arab Saudi mutlak diperlukan. Tujuannya agar dana yang sudah disetor untuk akomodasi, transportasi, dan layanan lainnya tidak hangus. Harapannya, dana itu bisa dialihkan untuk haji tahun 2027 tanpa dikenai penalti.
“Dan ini berbagai kemungkinan termasuk kemungkinan penolakan juga ada saja sehingga kami juga selalu mengantisipasinya,” tutup Menhaj. Semuanya masih mungkin, dan mereka berusaha siap untuk segala kemungkinan.
Artikel Terkait
Anggaran 2026 Bergerak Cepat, Belanja Negara Tembus Rp346,1 Triliun di Dua Bulan Pertama
Kapolri Tegaskan Sinergi TNI-Polri Kunci Jaga Stabilitas NKRI
Pemerintah Siapkan Tiga Skenario Keberangkatan Haji 2026 Antisipasi Konflik Timur Tengah
Polres Bogor Gelar Gerakan Pangan Murah di Stadion Pakansari Sambut Lebaran