Di sisi lain, para pekerja garis depan pun tak luput dari bahaya. Tenaga medis, yang seharusnya netral dan dilindungi, justru ikut menjadi sasaran. Jafarian menyebutkan 55 tenaga kesehatan terluka dan 11 lainnya gugur.
Dari sebelas korban tewas itu, empat di antaranya adalah dokter. Lalu ada dua perawat dan tiga petugas layanan darurat yang juga kehilangan nyawa saat menjalankan tugas.
Konflik yang pecah pada Sabtu, 28 Februari itu jelas telah menebar keprihatinan global. Banyak yang khawatir pertikaian ini akan meluas dan membuat kawasan Timur Tengah semakin tidak stabil. Hingga saat ini, dentuman tembakan dan serangan balasan masih terus terdengar, tanpa tanda-tanda akan reda dalam waktu dekat.
Dampaknya pun merambat ke luar medan perang. Harga minyak dunia mengalami lonjakan, yang tentu saja memicu kecemasan baru terhadap kondisi perekonomian global yang sudah rentan. Perang ini, singkatnya, bukan hanya soal korban jiwa di lapangan, tapi juga gelombang krisis yang bisa dirasakan di mana-mana.
Artikel Terkait
22 WNI Dievakuasi dari Iran Tiba di Indonesia Usai Jalani Perjalanan Darat Panjang
Kementan Siapkan 5,9 Miliar Benih Tebu untuk Pacu Swasembada Gula 2026
22 WNI Tiba di Indonesia Usai Dievakuasi dari Iran
Presiden Prabowo Pimpin Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara