Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Campak Jelang Mudik Lebaran

- Senin, 09 Maret 2026 | 13:00 WIB
Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Campak Jelang Mudik Lebaran

Meski tren kasus campak akhir-akhir ini terlihat menurun, bukan berarti kita bisa lengah. Kementerian Kesehatan justru mengingatkan agar kewaspadaan justru ditingkatkan, terutama menyambut momen mudik dan libur Lebaran yang sebentar lagi tiba. Bayangkan saja, pergerakan orang akan membludak, stasiun dan terminal penuh sesak. Kondisi seperti itu jelas jadi lahan subur untuk penularan penyakit, khususnya buat anak-anak yang belum mendapat imunisasi.

Data per pekan ke-8 tahun ini cukup mencengangkan: tercatat 10.453 suspek campak. Dari angka itu, 8.372 kasus dikonfirmasi dan sayangnya, enam di antaranya berakhir dengan kematian. Tak main-main, sudah ada 45 Kejadian Luar Biasa (KLB) yang tersebar di 29 kabupaten/kota, meliputi 11 provinsi. Daerah-daerah seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, hingga Sulawesi Tengah masuk dalam daftar wilayah yang terdampak.

Namun begitu, ada secercah kabar baik. Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menyebutkan bahwa lonjakan kasus di Januari lalu mulai mereda sepanjang Februari 2026.

“Tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Hingga minggu ke-8 tahun ini tercatat lebih dari sepuluh ribu suspek campak. Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers daring, Jumat (6/3) lalu.

“Menjelang mudik Lebaran, mobilitas masyarakat akan meningkat dan potensi kerumunan lebih besar. Karena itu, masyarakat perlu tetap waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap,” tambah dr. Andi menegaskan.

Lalu, apa yang sedang dilakukan? Langkah konkretnya, pemerintah lewat Kemenkes sedang menggenjot dua program: Outbreak Response Immunization (ORI) dan imunisasi kejar Campak-Rubella. Sasaran utamanya anak usia 9 bulan sampai 5 tahun. Gerakan ini digelar di 102 kabupaten/kota sepanjang Maret ini, dengan titik layanan yang diperbanyak. Nggak cuma puskesmas atau posyandu, tapi juga sampai ke PAUD, tempat ibadah, bahkan pos-pos layanan mudik. Tujuannya satu: menjangkau lebih banyak anak.

“Kami mengajak para orang tua untuk segera memeriksa status imunisasi anak dan melengkapinya jika belum lengkap. Imunisasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah anak tertular campak,” kata dr. Andi.

Di sisi lain, peran serta masyarakat tetap kunci. Perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin cuci tangan pakai sabun, etika batuk yang benar, dan pakai masker di kerumunan harus jadi kebiasaan. Terutama jika ada anak yang menunjukkan gejala seperti demam tinggi dan bercak merah.

“Apabila anak mengalami gejala campak atau sedang sakit, sebaiknya tidak bepergian terlebih dahulu dan segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Mengurangi kontak dengan orang lain juga penting untuk mencegah penularan lebih luas,” jelasnya.

Pada akhirnya, upaya mengendalikan campak ini nggak bisa ditumpukan pada pemerintah pusat semata. Diperlukan komitmen kuat dari pemda, dukungan berbagai sektor, dan tentu saja, kesadaran kita semua. Target cakupan imunisasi minimal 95% harus dicapai untuk membentuk kekebalan kelompok yang mampu memutus mata rantai penularan. Mudik boleh, tapi kesehatan tetap yang utama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar