Secara umum, Ferry melihat pasar properti punya pola respon sendiri saat tekanan eksternal datang. Awalnya, fase 'kaget' dan 'wait and see' di mana semua pihak memilih menunggu. Transaksi pun melambat.
Setelah itu, fase selektivitas. Hanya proyek premium di lokasi strategis dengan harga masuk akal yang masih laku. Yang lain? Stagnan.
Jadi, bagaimana prospek ke depan? Tergantung skala konfliknya. Kalau tidak berlarut-larut sampai memicu krisis energi global, dampaknya mungkin cuma sementara dan masih bisa dikelola.
Tapi ceritanya bakal beda kalau harga energi melonjak tajam dan inflasi meroket. Daya beli masyarakat bisa terpukul, suku bunga kredit ikut naik, dan efeknya ke sektor properti akan jauh lebih terasa. Terutama untuk segmen menengah ke bawah yang sangat sensitif dengan kenaikan cicilan KPR dan harga kebutuhan sehari-hari.
Intinya, semua mata sekarang tertuju pada perkembangan di Timur Tengah. Arah konflik itulah yang nantinya akan menentukan nasib pasar properti dalam beberapa bulan ke depan.
Artikel Terkait
Persib Jaga Momentum Tak Terkalahkan Hadapi Borneo di Puncak Klasemen
Prabowo Ingatkan Pengelola Danantara Jaga Amanah Aset Rp 16.000 Triliun
InJourney Airports Siapkan 37 Bandara Hadapi Lonjakan 9 Juta Pemudik Udara Lebaran 2026
Ketua DPR Iran Tegaskan Tidak Ada Gencatan Senjata dengan AS dan Israel