Arab Saudi dan Qatar Serukan AS, Israel, dan Iran Hentikan Permusuhan

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 23:00 WIB
Arab Saudi dan Qatar Serukan AS, Israel, dan Iran Hentikan Permusuhan

Suasana tegang di Timur Tengah kembali memanas. Arab Saudi, lewat Putra Mahkota Mohammed bin Salman, secara terbuka meminta tiga negara Amerika Serikat, Israel, dan Iran untuk segera menghentikan permusuhan. Permintaan itu disampaikan dengan nada mendesak, mengingat konflik yang berkecamuk dinilai mengancam stabilitas keamanan kawasan yang sudah rapuh.

Tak sendirian, Qatar berdiri di sisi yang sama dengan Saudi. Kedua negara sekutu itu serentak menyerukan agar semua pihak yang bertikai menahan diri. Eskalasi, menurut mereka, harus dihindari. Yang lebih penting lagi, jalan dialog harus segera dibuka kembali. "Kembali ke meja perundingan," begitu inti seruan mereka.

Seruan ini bukan muncul tiba-tiba. Ini hasil dari percakapan telepon yang cukup panjang antara MBS dan Emir Qatar, Tamim bin Hamad al-Thani. Mereka berdua dikabarkan mendiskusikan perkembangan terbaru dengan sangat serius, sambil mengkaji dampak riaknya terhadap keamanan, baik regional maupun internasional.

Dalam percakapan itu, MBS menyampaikan pesan yang sangat kuat.

"Arab Saudi menegaskan solidaritas dan dukungan penuh kepada Qatar. Kami juga mengecam keras penargetan wilayah Qatar dengan rudal balistik Iran. Kami berkomitmen memberikan segala dukungan yang mungkin untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas Qatar," ujar MBS.

Menanggapi hal itu, Emir Tamim pun menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Ia mengapresiasi sikap tegas Saudi dan menyebut dukungan itu sebagai bentuk solidaritas persaudaraan yang tulus untuk rakyat Qatar.

Di sisi lain, reaksi keras juga datang dari Oman. Menteri Luar Negeri negeri itu, Badr Albusadi, terlihat jelas kesalnya. Oman, yang selama ini punya peran sebagai mediator dalam sejumlah perundingan rahasia di kawasan, merasa langkah-langkah diplomasinya kembali dihancurkan.

Badr mengaku terkejut dan kecewa dengan serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

“Negosiasi yang aktif dan serius kembali dirusak. Tindakan seperti ini sama sekali tidak melayani kepentingan AS, apalagi perdamaian global. Saya hanya bisa mendoakan warga sipil tak bersalah yang pasti akan menderita,” katanya dengan nada prihatin.

Pesan penutupnya bahkan lebih blak-blakan, sekaligus memperingatkan.

“Saya mendesak Amerika Serikat agar tidak semakin terseret lebih jauh. Ini bukan perang Anda," tegas Badr.

Desakan dari berbagai pihak ini menggambarkan betapa gentingnya situasi. Perang bukan hanya pertarungan militer, tapi juga ujian bagi diplomasi kawasan yang sedang berusaha mati-matian mencegah malapetaka yang lebih besar.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar