“Dengan penambahan kilang yang mampu memproduksi bioavtur PertaminaSAF, tentu akan semakin meningkatkan optimisme kita dalam memastikan peta jalan penggunaan SAF di Indonesia,” tambah Roberth penuh keyakinan.
Langkah ini jelas bagian dari strategi besar. Pertamina tak hanya mengoptimalkan aset eksisting, tapi juga memperluas portofolio bisnis rendah karbon. Semua sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong kemandirian energi dan rencana mandatori SAF.
Persiapannya sendiri sudah berjalan cukup panjang. Mulai dari penyesuaian infrastruktur kilang, kerja sama dengan pemasok minyak jelantah, penyiapan peralatan analisis, pengembangan katalis khusus, hingga pemenuhan proses sertifikasi yang rumit tadi.
“Dengan raihan ini, saat ini seluruh rantai pasok PertaminaSAF di PPN sudah mendapatkan sertifikasi internasional keberlanjutan ISCC,” jelas Roberth.
Rincian sertifikasinya sendiri bisa dicek langsung di website ISCC.
Dengan segala persiapan yang sedang digenjot, targetnya jelas. Kilang Dumai dan Balongan ditargetkan siap melakukan uji coba pengolahan minyak jelantah menjadi SAF bersertifikat pada tahun 2026 mendatang. Momen yang pasti dinantikan.
Artikel Terkait
Iran Balas Serangan, Rudal dan Drone Hantam Israel dan Pangkalan AS di Timur Tengah
Indonesia Siap Kawal Industri Panel Surya Hadapi Penyelidikan Antisubsidi AS
AS Bergabung dengan Israel Serang Iran, Kekuatan Militer Kedua Negara Jomplang
Menteri PU Targetkan 7.000 Lubang di Pantura Barat Jawa Tuntas Sebelum Lebaran 2026